MADIUN – Sedikitnya 331 warga Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, menerima bantuan pangan dari pemerintah melalui Perusahaan Umum (Perum) Bulog Cabang Madiun dalam kegiatan peluncuran pangan periode dua yakni alokasi Juli, Agustus, dan September 2026 nanti.
Jumlah 331 dari total 107,231 warga yang tersebar di 15 kecamatan yang ada Kabupaten Madiun ini, merupakan PBP (Penerima Bantuan Pangan) perdana se-Jawa Timur. Setiap PBP periode dua ini menerima beras medium PSO (Public Service Obligation) atau kewajiban pelayanan publik yang dikelola Perum Bulog Cabang Madiun per alokasi 10 kg, sehingga totalnya 30 kg.
“Jadi, seperti yang kami sampaikan tadi, nanti beras yang akan tersalurkan atau beredar di Kabupaten Madiun mencapai 3.216.930 kg,” ujar Agung Sarianto, pemimpin Cabang Perum Bulog Madiun seusai kegiatan peluncuran pangan periode dua di gedung serba guna desa setempat, Senin 10 Agustus 2026.
Menurutnya untuk target di Perum Bulog Cabang Madiun sendiri yakni Kota Madiun, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi totalnya adalah 286.362 PBP dengan kisaran 8.000 an ton beras medium PSO.
Terkait keberadaan minyak kita di periode dua yakni Juli, Agustus, dan September 2026 ini, memang tidak menyertakan minyak goreng, tapi berasnya menjadi 30 kg untuk 3 alokasi tersebut. “Untuk minyak goreng di periode dua ini, memang dari pusat tidak ada,” katanya.
Untuk target penyaluran beras medium PSO kepada warga PBP, lanjut dia, memang dari Bapanas (Badan Pangan Nasional) sendiri harus selesai di tanggal 30 September 2026 mendatang. Mengingat di bulan-bulan Agustus 2026 ini, memang banyak kegiatan 17 Agustusan yakni dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebab itulah, Perum Bulog Cabang Madiun sendiri selalu intensif berkoordinasi dengan perangkat desa, dan juga kecamatan. Artinya desa mana saja yang ready, tentu Bulog Cabang Madiun segera menyalurkan PBP terlebih dahulu ke desa tersebut.
“Tapi nanti selesai di Agustus ini, kami optimis bulan September penyaluran bantuan pangan pasti selesai. Karena di periode yang lalu pun, kami dapat menyelesaikan bantuan pangan yang pertama selesai di Jawa Timur,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa di Kabupaten Madiun sendiri terkait warga PBP mengalami penurunan yakni periode satu di bulan Maret-Februari 2026 totalnya 110,124 PBP, namun pada periode dua ini menjadi 107,231 PBP atau selisih 2,893 PBP. PBP itu, tentunya berdasarkan DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional) Kementerian Sosial (Kemensos) RI pada desil 1 sampai 4. DTSEN tersebut, memang semua terupdate.
Terkait kualitas beras medium PSO yang diterima warga atau PBP, tentunya Bulog Cabang Madiun selalu mengantisipasi hal-hal seperti tahun lalu di daerah lain yakni terdapat beberapa bantuan pangan yang mungkin berasnya kurang sesuai, baik timbangan maupun kualitasnya.
“Untuk itu, jika ada warga PBP ini menemukan hal serupa dapat di konfirmasikan kepada petugas kami. Kami siap menerima pengaduan dari masyarakat khususnya PBP yaitu 2 x 24 jam, Kami siap mengganti beras tersebut,” tandasnya.
Agung menambahkan, PBP beras ini merupakan salah satu bentuk JPS (Jaring Pengaman Sosial) pemerintah yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat, membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat stabilitas pangan nasional.
Di kesempatan yang sama, Bupati Madiun’ H. Hari Wuryanto, menegaskan dengan dimulainya peluncuran bantuan pangan oleh Perum Bulog Cabang Madiun, merupakan bentuk kehadiran pemerintah kepada masyarakat untuk bisa menstabilkan harga. Mengingat belakangan ini ada beberapa informasi, terkait isu kenaikan harga khususnya kebutuhan pokok.
Sebab itu, pemerintah berharap dengan adanya bantuan pangan ini masyarakat tidak panik, sehingga tetap ayem bisa menerima bantuan tersebut. Insyaallah Kabupaten Madiun, juga hampir 30% KK (Kepala keluarga) sudah ditetapkan untuk PBP ini.
“Ini mudah-mudahan, betul-betul bisa menjaga stabilitas harga di Kabupaten Madiun. Tentunya, kami atas nama pemerintah mengapresiasi Perum Bulog Cabang Madiun, karena se-Jawa Timur yang pertama kali meluncurkan bantuan pangan ini kepada penerima manfaat,” tuturnya.
Disampaikan syukur alhamdulillah, lanjut Bupati, karena koordinasi Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Madiun dengan Bulog Cabang Madiun luar biasa, sehingga kita bisa menjadwalkan pendistribusian bantuan pangan ini secepatnya. Kebetulan desa-desa juga sudah siap karena kita harus sistem aplikasi, supaya apa yang kita sampaikan bisa terinformasikan ke pusat juga.
“Jadi dari desa pakai aplikasi, sehingga sistem ini juga memudahkan untuk bisa menjadikan laporan dari pusat bahwa bantuan pangan yang disampaikan betul-betul diterima oleh masyarakat,” tegasnya.
Bupati Madiun berpesan kepada warga khususnya PBP ini, Pemda Kabupaten Madiun berharap, ‘pokoknya jangan sampai pangan ini di jual’. Karena bantuan pangan ini untuk kebutuhan mereka. Sebab itu, kita pilih dari sekian hanya 30% warga PBP. “Supaya ini, betul-betul menjadi cadangan mereka agar tidak kekurangan pangan,” tandas H. Hari Wuryanto.*(al/madiuntourism.com)



















