Menjalin Usaha Bersama

logo

Tim Rail Tour ‘Whoosh to Bandung’ KAI Daop 7 Madiun, Telusuri Kereta Terintegrasi

Rabu, 21 Oktober 2026

JAKARTA – Sejak kemarin malam menyusuri rel panjang kiloanmeter dari Stasiun Madiun, akhirnya sampai juga ke daerah tujuan yakni ‘Ibu Kota Indonesia’ di Jakarta, Rabu 21 Oktober 2026 pagi atau tepatnya pada pukul 05:45 WIB.

‎Tim media madiunan tergabung dalam rail tour “Whoosh to Bandung”, mitra Humas PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun tiba di Stasiun Gambir, setelah menempuh perjalanan jauh selama 8 jam 24 menit sejak Selasa 20 Oktober 2026 mulai pukul 21:21 WIB menggunakan moda transportasi kereta api (KA) Bima kelas Eksekutif.

‎Malam itu, puluhan stasiun kereta serta beberapa wilayah kerja Daop yang ada di lintas selatan dilalui oleh KA Bima relasi Surabaya Gubeng-Gambir Jakarta. Saat KA Bima memasuki wilayah Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi), redup perkotaan terlihat mulai terbelalak diterpa mentari pagi.

‎Aktivitas Stasiun Jatinegara Jakarta terbuka lebar menyambut riuh silih berganti pelanggan setia KAI, yang telah/akan menggunakan moda transportasi KA untuk beraktivitas demi mencapai “segenggam berlian”.

‎Tak hanya itu, beberapa KAJJ dari berbagai kota sejenak tiba, sementara KRL (kereta rel listrik) Commuter Line yang bejubel penumpang pelan mulai meninggalkan Stasiun Jatinegara menju stasiun KRL Commuter Line, LRT (light rail transit), MLT (mass rapid transit) lainnya yang ada di ibu kota.

‎Terintegrasi antara KAJJ dengan KA lokal melalui stasiun-stasiun ini, tentunya semakin dirasakan oleh masyarakat khusus pelanggan setia KAI untuk mempermudah setiap aktivitas sehari-hari menggunakan moda transportasi KA.

‎Termasuk KA Bima Eksekutif dan KA kelas lainnya dari wilayah kerja Daop 7 Madiun-Jawa Timur, berlanjut dari Stasiun Jatinegara-Jakarta Timur hingga ke Stasiun Gambir yang ada di Jakarta Pusat. Sesampainya di Stasiun Gambir, tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun langsung disambut hangat oleh jajaran KAI Daop 1 Jakarta.

‎Kenalkan KAJJ Terintegrasi Dengan Whoosh

‎Sementara itu, Manager Humas KAI Daop 7 Madiun’ Tohari, menerangkan tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 ini bertujuan dari Madiun-Jakarta, dan Jakarta-Bandung yakni dalam rangka untuk mengenalkan transportasi KA yang terintegrasi.

‎Diharapkan nanti teman-teman media madiunan yang tergabung dalam tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun ini bisa bercerita kepada anggota keluarga, teman sejawat dan lainya.

‎Disampaikan juga kepada seluruh masyarakat bahwa KA saat ini sudah bisa terintegrasi dengan KAJJ hingga dilanjutkan dengan sambungan di Stasiun Gambir Jakarta. Karena di Gambir banyak sambungan untuk menuju Dukuh Atas serta stasiun lainnya.

‎”Lalu dari Stasiun Dukuh Atas ada koneksi selain dengan KRL, juga ada koneksi dengan KA cepat Whoosh Jakarta-Bandung. Dari sinilah (stasiun Gambir), kita bisa turun di Stasiun Halim untuk melanjutkan perjalanan menggunakan KA Whoosh ke arah Bandung,” ujar Tohari, saat memimpin tim rail tour “Whoosh to Bandung”, Rabu 21 Oktober 2026 pagi.

‎KAJJ Terintegrasi Jalur RLT

‎Satu jam lamanya tak terasa berinteraksi bersama sejumlah pegawai KAI Daop 1 Jakarta di ruang VIP Stasiun Gambir. Saat itu, sebelum meninggalkan Stasiun Gambir, sejenak membuat dokumentasi foto antara tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun bersama sejumlah pegawai KAI Daop 1 Jakarta.

‎Ibu Kota semakin terasa panas, tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun bergeser menuju Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta Selatan. Lagi, tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun di sambut hangat oleh manager beserta staf Stasiun LRT Jabodebek setempat. Perjalanan dari pintu masuk hingga ke area tunggu kedatangan kereta tanpa awak atau masinis tersebut, beberapa menit telah dilalui tim rail tour tersebut.

‎Cukup satu kartu untuk pembayaran tiket kereta LRT dengan sistem atau aplikasi digital, tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun didampingi manager Stasiun LRT Dukuh Atas beserta jajarannya, sudah bisa menggunakan moda transportasi kereta yang di operasikan secara otomatis tanpa awak/masinis hingga Stasiun LRL Jabodebek Halim di Jakarta Timur.

‎Manager Public Relations LRT Jabodebek, Raditya Mardika, mengatakan bahwa LRT Jabodebek yang berlanjut ke Stasiun Dukuh Atas ini memang perjalanannya dengan sistem otomatis atau tanpa awak/masinis.

‎Sedangkan operasionalnya menggunakan Communication Based Train Control (CBTC) dengan Level Grade of Outomation level 3 yakni dimana semuanya berjalan secara otomatis, namun tetap dalam pendampingan Train of Tandon.

‎CBTC adalah sistem persinyalan KA modern yang menggunakan komunikasi data dua arah secara nirkabel (radio/wireless) antara kereta dan perangkat di sisi jalur (wayside/trackside)

‎”Jadi, petugas ini berfungsi mondar-mandir sambil mengontrol perjalanan, dan apabila ada sesuatu gangguan atau hal-hal teknis yang membutuhkan penanganan? Maka Train of Tandon ini akan duduk didepan,” katanya.

‎Tetapi ketika didepan pun, lanjut dia, jika terjadi suatu hal memang benar-benar membutuhkan, petugas tersebut akan mengontrol. Selebihnya petugas ini hanya  memantau perkembangan melalui handpone/HP atau perangkat elektronik yang sudah disediakan oleh LRT (Lintas Raya Terpadu) Jabodebek.

‎Untuk kecepatannya kereta tanpa awak ini maksimal ada di 80km/jam. Line dari Stasiun Jati Mulya ke Dukuh Atas. Sedangkan untuk relasinya dari Stasiun Dukuh Atas, Bank Syariah Indonesia (BSI) menuju Stasiun Jatimulya. Bahkan yang sekarang ini sama yang satunya lagi Dukuh Atas, Bank Syariah menuju Harjamukti wilayah Bekasi.

‎Karena ada beberapa stasiun yang sudah terintegrasi seperti Dukuh Atas yang baru tim rail tour “Whoosh to Bandung” KAI Daop 7 Madiun bersama jajaran dari LRT Jabodebek naik itu terintegrasi langsung dengan Trans Jakarta.

‎”Kemudian KRL Stasiun Sudirman, Kereta Bandara, juga ada lagi MRT Jakarta, dan Stasiun Cikoko. Nanti, kita juga akan berhenti stasiun tersebut yang terhubung langsung dengan Trans Jakarta sama Stasiun KRL Cawang,” jelasnya.

‎Pengguna Whoosh Dapat Bonus KA Feeder

Tentunya jalur kereta yang ada di ‘Ibu Kota Indonesia’ di Jakarta sukses dijalankan oleh PT KAI (Persero) secara terintegrasi hingga ke ‘kota kembang’ atau Bandung, Jawa Barat. Untuk menuju Bandung, memang ada beberapa pilihan moda transportasi KA, tapi jika pelanggan setia KAI membutuhkan waktu yang cepat, tinggal pilih Whoosh, yang merupakan kereta tercepat nomor 1 di dunia bahkan pertama kali di Asia Tenggara.

‎Kereta cepat Whoosh ini melayani relasi Jakarta-Bandung, yakni Stasiun Padalarang dan Stasiun Tegalluar Summarecon dengan kecepatan operasional mencapai 350 km/jam. Sementara itu, keberangkatan dari Stasiun Halim hingga Padalarang, tentunya akan terintegrasi dengan jalur kereta relasi Stasiun Padalarang-Stasiun Bandung dengan menggunakan ‘KA Feeder’ tanpa dipungut biaya tiket alias gratis.

‎Manager Corporate Communication PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Emir Monti, mengungkapkan Whoosh hadir di Indonesia sejak tahun 2023 lalu. Bahkan saat ini, telah beroperasiona 3 tahun dengan volume penumpang mencapai 18 juta orang, baik dari WNI (Warga Negara Indonesia) maupun WNA (Warga Negara Asing).

‎Kereta cepat Whoosh ini hadir untuk mempermudah konektivitas antara Jakarta dan Bandung yakni melalui sambungan KA Feeder yang beroperasi dari Stasiun Padalarang menuju Stasiun Bandung.

‎Secara total perjalanan Whoosh dari Stasiun Halim Jakarta menuju stasiun Padalarang mengambil waktu sebanyak 29 menit, tentunya ditambah dengan perjalanan KA Feeder yang gratis khusus untuk penumpang KA Whoosh.

‎”KA Feeder ini akan menempuh perjalanannya dengan waktu selama 18 menit, jadi totalnya 40 menit. Jadi, penumpang KA cepat Whoosh sudah bisa dari Stasiun Halim Jakarta menuju Kota Bandung,” terangnya.

‎Menurut dia, Whoosh didesain mampu melayani penumpang secara operasional hingga 350km/jam. Karena Whoosh adalah salah satu kereta tercepat didunia, dan pertama di Asia Tenggara. Selain itu, KA Whoosh memiliki kapasitas sebanyak 601 tempat duduk (TD) yang terbagi 3 kelas. Pelayanan yang paling banyak adalah kelas premium ekonomi 555 TD, kelas bisnis 28 TD, dan first class 18 TD.

‎Tarif untuk premium ekonomi mulai dari Rp275.000, kelas bisnis Rp450.000, dan first class Rp600.000. Namun, jika dibandingkan okupansi di hari-hari biasa dapat melayani sebanyak 16.000 hingga 18.000 per harinya. Sementara untuk weekend mencapai 18.000 hingga 20.000 penumpang.

‎Puncaknya terjadi di tahun 2025 lalu, manajemen KCIC telah melayani hingga 26.000 penumpang Whoosh per harinya. Update pada periode 2023 hingga 2026 ini, KCIC telah melayani 1 juta penumpang internasional yakni di mana sebesar 43% atau sebanyak 430.000 orang, merupakan penumpang asal Malaysia.

‎”Jadi, penumpang asal WNA Malaysia ini cukup tinggi minat menggunakan kereta cepat Whoosh. Karena mereka bisa jalan-jalan di Jakarta dan menikmati pemandangan alam di Bandung.*(al/madiuntourism.com)

error: