Menjalin Usaha Bersama

logo

Hari Kartini: Deretan Film Pilihan Tentang Perjuangan Perempuan

Rabu, 22 April 2026

INDONESIA – Hari ini, sosok perempuan dalam film tak lagi sekadar pelengkap cerita. Mereka hadir di garis depan dengan membawa karakter dan pergulatan hidup yang dekat dengan realitas. Dari layar lebar ini, kisah tersebut merepresentasikan potret kebebasan, kemandirian, dan ketangguhan yang sejak dahulu digaungkan R.A. Kartini.

Momentum bulan April yang identik dengan Hari Kartini terasa pas menjadi refleksi sekaligus inspirasi perempuan untuk terus berkarya tanpa batas, sebagaimana tercermin melalui film-film Indonesia.

Mulai dari identitas dan cinta hingga ketangguhan menembus batas ekspektasi, setiap film menghadirkan perjalanan perempuan dengan latar belakang dan tantangan yang berbeda. Berikut lima film karya anak bangsa rekomendasi film perjuangan perempuan.

Kartini (2017)

Tak lengkap rasanya jika tidak menyaksikan film Kartini (2017) pada Hari Kartini ini. Film yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo ini mengisahkan tentang sosok R.A. Kartini bersama kedua saudarinya di era 1880-an sampai awal 1900-an yang memperjuangkan hak perempuan melalui tulisan, pendidikan, dan berbagai inisiatif sosial, demi membuka kesempatan yang lebih luas bagi perempuan di masanya.

Di balik kisahnya, film ini juga menghadirkan kehangatan persaudaraan, rasa kekecewaan, serta keteguhan Kartini menghadapi berbagai tantangan.

Gadis Kretek (2023)

Diadaptasi dari novel fiksi karya Ratih Kumala, film ini menceritakan tentang Raja yang di penghujung hidupnya ingin bertemu kembali dengan Dasiyah atau Jeng Yah, cinta lamanya. Keinginan tersebut mendorong putranya, Lebas, untuk mencari keberadaan Jeng Yah, yang kemudian membuka kembali jejak masa lalu termasuk keter Arum.

Jeng Yah digambarkan sebagai perempuan yang berjuang di dunia kretek dengan mimpi besar, namun harus menghadapi kuatnya budaya patriarki yang membatasi perannya karena pada zaman itu perempuan masih dipandang sebelah mata oleh laki-laki. Meski demikian, ia tetap berkarya hingga menghasilkan racikan kretek “Gadis”, sebelum akhirnya dihadapkan pada berbagai kenyataan pahit dalam hidupnya.

Film ini menyoroti perjuangan Jeng Yah di tengah ruang yang didominasi oleh laki-laki. Di bawah arahan Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, Gadis Kretek juga berhasil tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2023.

Women From Rote Island (2023)

Diadaptasi dari kisah nyata, film ini mengangkat isu sensitif seperti kekerasan seksual dan ketimpangan gender yang menceritakan tentang perjuangan perempuan-perempuan di Pulau Rote. Melalui karakter Orpa, film ini menampilkan seorang perempuan muda yang kembali ke Pulau Rote setelah mengalami kekerasan seksual saat bekerja sebagai pekerja migran.

Alih-alih menemukan kenyamanan, ia justru menghadapi stigma dan tekanan dari lingkungannya sendiri, mengungkap realitas pahit, termasuk kuatnya budaya menyalahkan korban. Lebih dari sekadar cerita, film ini menjadi pengingat akan pentingnya kepekaan terhadap sekitar kita.

Penyalin Cahaya (2021)

Penyalin Cahaya mengisahkan Sur, seorang mahasiswi tingkat pertama yang hidupnya berubah setelah foto dirinya saat mabuk di sebuah pesta kampus tersebar di media sosial. Akibatnya, ia kehilangan beasiswa dan diusir oleh keluarganya.

Merasa ada yang tidak beres, Sur bersama sahabatnya, Amin, berusaha mencari kebenaran di balik kejadian malam itu dengan menelusuri bukti dan jejak digital di lingkungan kampus.

Pencarian tersebut membawa Sur pada kenyataan yang lebih kompleks tentang kekuasaan, kekerasan, dan upaya seorang perempuan untuk mendapatkan keadilan di tengah situasi yang tidak berpihak padanya.

A Normal Woman (2025)

Mengisahkan tentang Milla yang digambarkan sebagai sosok perempuan modern yang terlihat memiliki kehidupan sempurna sebagai sosialita. Namun dibalik kehidupannya yang glamor, ia mulai dihantui kegelisahan yang perlahan memengaruhi kondisi fisik dan mentalnya.

Dengan berjalannya waktu, ia mempertanyakan kepada dirinya apakah kehidupan yang dijalani selama ini merupakan pilihannya atau hanya untuk memuaskan ekspektasi sosial. Film ini bukan hanya menceritakan tentang Milla yang bertarung dengan realita dan tuntutan, namun menjadi renungan bagi banyak perempuan di kehidupan nyata terkait standar sosial dan pencarian jati diri.

Pada akhirnya, Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga membaca ulang maknanya di masa kini. Film-film ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan terus hidup berubah bentuk, tapi tetap membawa semangat yang sama.#HariKartini #Kartini #KartiniMasaKini.*(sumber:ekraf.go.id)

error: