Menjalin Usaha Bersama

logo

Belajar Menjadi Wisatawan yang Bertanggungjawab Melalui Tanjung Puting

Rabu, 19 Agustus 2026

INDONESIA – Taman Nasional Tanjung Puting yang berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menjadi gerbang perjalanan petualangan kamu. Perjalanan umumnya dimulai dari Pangkalan Bun, lalu diteruskan melalui perjalanan darat sekitar setengah jam menuju Kumai.

Dari pelabuhan inilah klotok berangkat menyusuri Sungai Sekonyer dan anak-anak sungainya menuju kawasan taman nasional. Jalur air tersebut menjadi koridor utama karena banyak bagian hutan tidak terhubung jalan darat. Sepanjang perjalanan, warna air dapat berubah, vegetasi di tepi sungai berganti, dan aktivitas satwa paling sering terlihat pada pagi atau sore ketika suhu lebih sejuk.

Walau tujuan utama melihat orangutan Kalimantan, akan tetapi kamu akan mendapatkan pengalaman yang jauh lebih luas, dimulai dari trekking ringan, hingga menyaksikan perubahan warna air dari coklat berubah menjadi merah kecoklatan, yang menandakan petualangan akan dimulai.

Tentunya ini bukan pemandangan biasa didapati sehari-hari, merahnya air disebabkan oleh proses pembusukan sisa-sisa tumbuhan, seperti daun, akar, ranting, dan kayu yang tertimbun di lahan gambut selama ribuan tahun. Perjalan menjadi semakin mendebarkan ketika menembus rapatnya ekosistem gambut di antara anak-anak sungai bak hordeng yang menunggu untuk disibakan.

Setelah kurang lebih menempuh perjalanan dua jam, pemberhentian pertama yang akan kamu temui iyalah Pondok Tanggui yang menjadi titik pusat rehabilitasi orangutan yang pernah didomestikasi oleh manusia. Kegiatan konservasi memiliki sesi pemberian pakan terjadwal, membuat kamu berpeluang mengamati orangutan dari jarak aman tanpa mengubah hutan menjadi panggung pertunjukan.

Dengan jarak sekitar satu hingga dua jam dari Pondok Tanggui, kamu akan tiba di Camp Leakey, pusat penelitian orangutan yang didirikan oleh Dr. Biruté Mary Galdikas pada tahun 1971. Tempat ini dinamai untuk menghormati Dr. Louis Leakey, mentor Galdikas, sebagai simbol semangat penelitian dan konservasi yang menjadi fondasi berdirinya pusat rehabilitasi orangutan di Tanjung Puting.

Camp Leakey bukan hanya menjadi lokasi penting dalam studi perilaku orangutan, tetapi juga destinasi wisata edukatif yang menawarkan pengalaman tak sekadar indah dan menarik, melainkan juga bermakna bagi upaya pelestarian alam.

Setelah menyaksikan semangat konservasi di Camp Leakey, kamu akan semakin menyadari betapa kaya dan beragamnya kehidupan liar di Tanjung Puting. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi, monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, buaya, serta bekantan berhidung panjang yang mungkin biasa kalian ingat sebagai ikon dari Dufan. Perjalanan di Tanjung Puting dengan Klotok pun bukan hanya sekedar alat transportasi, namun perahu kayu tradisional yang menjadi penghantar halaman-perhalaman lembar buku ensiklopedia yang muncul ke dalam dunia nyata.

Saat malam datang, suasana hutan dan lahan gambut pun menjadi lebih dengan syahdu ditemani irama yang tak familiar didengar, langit cerah beserta hamparan gugusan bintang-bintang yang menemani waktu istirahatmu di Klotok. Pengalaman inilah yang membuat wisata Tanjung Puting berbeda dari liburan biasa.

Tanjung Puting bukanlah destinasi bagi orang yang mengharapkan kemewahan dan kenyamanan layak hotel berbintang lima. Udara lembab, serangga, hujan mendadak, jalur berlumpur, dan sinyal yang terbatas merupakan bagian dari pengalaman yang kana dihadapi. Akan tetapi semu semua itu akan sebanding dengan pengalaman yang tidak dapat kamu dapatkan dimana-mana.

Secara umum, periode yang lebih kering sekitar Juni hingga September sering dipilih karena hujan cenderung lebih sedikit, pelayaran terasa nyaman, dan jalur trekking tidak terlalu licin. Meski begitu, Tanjung Puting dapat dikunjungi sepanjang tahun.

Musim hujan menghadirkan hutan yang sangat hijau dan suasana sungai yang dramatis, tetapi wisatawan perlu menyiapkan jas hujan serta kefleksibilitasan rangkaian acara yang dapat berubah dikarenakan cuaca.

Durasi yang cocok adalah tiga hari dua malam, waktu tersebut cukup untuk menikmati pelayaran tanpa tergesa-gesa, mengunjungi beberapa lokasi pengamatan, serta merasakan malam di atas klotok. Sebaiknya jadwal kedatangan ke Pangkalan Bun tidak terlalu sore agar perjalanan menuju Kumai dan proses keberangkatan lebih santai.

Sebisa mungkin lakukan pemesanan kapal, pemandu, dan tiket penerbangan lebih awal agar harga dan waktu yang pas. Periksa juga informasi operasional terbaru dari pengelola atau operator resmi karena jadwal, izin, biaya masuk, dan kondisi jalur dapat berubah.

Wisata yang dikelola secara bertanggung jawab juga dapat mendukung ekonomi lokal dan memperkuat alasan untuk menjaga hutan. Nilai perjalanan pun bukan diukur dari seberapa dekat seseorang bisa berfoto dengan orangutan, melainkan dari seberapa baik kita menjaga lingkungan dan alam agar tetap dapat melestarikan satwa di habitat yang semestinya.

Saat berada di kawasan, ikuti instruksi pemandu dan petugas. Jangan menyentuh, memberi makan, memanggil, atau menghalangi jalur orangutan. Hindari makan di dekat satwa, jaga suara tetap rendah, dan jangan memakai lampu kilat. Jika orangutan mendekat, tetap tenang dan biarkan pemandu mengatur jarak. Jangan meninggalkan sampah, termasuk tisu dan puntung rokok.

Pada akhirnya, wisata ke Tanjung Puting adalah pertemuan antara rasa ingin tahu dan tanggung jawab. Kita datang untuk melihat orangutan, tetapi pulang dengan pemahaman bahwa satwa tersebut hanya dapat bertahan jika hutannya tetap utuh dan manusia tahu kapan harus menjaga jarak.

Perjalanan dengan klotok, udara lembab khas hutan, wajah bekantan di tepi sungai, dan sosok orangutan di antara dahan menyusun pengalaman yang sulit dilupakan. Tanjung Puting bukan sekadar destinasi untuk mencentang bucket list kamu, tapi ini adalah pengingat bahwa alam layak mendapatkan perlindungan dari kekuatan manusia yang memiliki kecerdasan, kompleksitas emosi dan potensi yang tiada batas.*(sumber:kemenpar.go.id)

error: