INDONESIA – Langkah kaki Wahyadi Liem, Founder Pipilaka Foundation terasa ringan, gestur wajahnya menunjukkan semangat yang tak putus. Sesekali tersenyum sembari mengajak Menteri Ekonomi Kreatif (Menteri Ekraf) Teuku Riefky Harsya dan Wamen Ekraf, Irene Umar masuk ke dalam dunia kecil bernama Pipilaka, sebuah pameran immersive art exhibition.
Yakni, sebuah bentuk pameran seni yang tidak hanya ditampilkan untuk dilihat, tetapi juga dirasakan melalui perpaduan visual, suara, cahaya, ruang, dan terkadang interaksi langsung.
Wahyadi memberi nama Pipilaka Calling. Pipilaka lahir dari sebuah pemikiran mendalam. Terinspirasi dari kata pipilika dalam bahasa Sanskerta yang berarti semut, Wahyadi menangkap filosofi makhluk kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi memiliki kekuatan luar biasa ketika bergerak bersama.
Dari situlah Pipilaka tumbuh, bukan sebagai tokoh heroik tunggal, melainkan simbol gerakan kolektif. Perubahan, dalam semesta Pipilaka, selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Bukan hanya sekadar pameran karya seni visual, Wahyadi menciptakan Pipilaka sebagai benih dari sebuah intellectual property (IP) yang membawa pesan, terutama kepedulian terhadap lingkungan. Semuanya dikemas dalam bentuk immersif, bisa diajak ngobrol, berjoget hingga bersentuhan langsung.
Ia melihat lingkungan menjadi napas utama yang perlu terus dijaga. Karenanya, penyampaian secara halus melalui karya seni menjadi caranya untuk mengajak masyarakat untuk ikut berperan. Dari Pipilaka, kata Wahyadi, layaknya semut kecil yang mampu bekerja kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Kembali lagi, Pipilaka bukanlah pahlawan tunggal, namun hanya pemberi pesan.
“Jadi Pipilaka itu identik filosofinya akan selalu ngikutin. Satu, kita perlu gotong royong, lalu keberanian. Kita mau titip pesan yaitu agar kita merawat lingkungan karena ini rumah kita. Nggak mungkin kita buang sampah di dalam rumah kita. Makanya kita mau mengingatkan, ini rumah kita loh,” jelasnya.
Memahami konsep dasar mengenai kesadaran lingkungan, proses penciptaan Pipilaka juga tak lepas dari bahan yang digunakan. Wahyadi menggunakan tanah liat hingga material daur ulang untuk membangun sebuah karakter.
“Mulai pembuatan patung awalnya untuk di rumah lalu bikin pertama dari bahan eco friendly, awalnya dari tanah liat lalu pameran pertama dari tanah liat juga tapi kan rawan rusak ya. Akhirnya kita ganti dari alumunium recycle dan bronze recycle,” tutur Wahyadi.
Tak berhenti di situ, Wahyadi sadar bahwa perlu cara lebih besar guna menggaungkan mimpinya. Ke depan, Pipilaka bakal dibentuk dalam sebuah animasi film, dengan begitu dunia Pipilaka bakal lebih luas.
Wahyadi dan timnya tengah menyiapkan narasi yang lebih utuh, menjadikan Pipilaka bukan hanya karakter pameran, tetapi tokoh dengan cerita yang hidup.
“Ke depan kita akan bikin cerita tentang si Pipilaka. Sekarang kita kumpulin tim, diskusi dengan tim. Kita ingin bangun IP lokal yang bisa go internasional. Segera sih, waktu produksi 3–4 tahun. Tapi tahun ini kita sudah mulai,” katanya.
Dari Sarinah, Pipilaka tidak akan berhenti. Dunia mereka akan menyebar ke sejumlah kota di Tanah Air. Kampanye positif mereka akan lebih menyebar.
“(Dari) Sarinah kita mau ke luar Jakarta, rencana mau Jogjakarta pertengahan Maret. Surabaya di Juni-Juli, lalu Bandung,” tutupnya.*(sumber:ekraf.go.id)



















