Menjalin Usaha Bersama

logo

Dibalik Peristiwa 30 September, Bupati Madiun Bersama Hanung Nobar Film “Lobang Buaya”

Sabtu, 3 Oktober 2026

MADIUN – Puluhan orang dibuat tercengang, namun antusias ingin terus menyaksikan film berjudul “Lobang Buaya” garapan sutradara Hanung Bramantyo, yang tayang di Suncity Madiun Cinema XXI, Kota Madiun, Sabtu 3 September 2026.

Film yang berlatar belakang tragedi kelam pada tahun 1964 atau 309 hari sebelum tragedi berdarah yakni 30 September 1965/G30S PKI meletus ini, dibintangi oleh Baskara Mahendra sebagai Letnan Soegeng bersama Carissa Perusset sebagai Arum Wangi.

‎Dalam perannya, film “Lobang Buaya” ini mengulik seni budaya tari ronggeng, bahkan juga mendominasi horor yakni sosok hantu misterius yang secara bertubi-tubi melakukan teror ditengah pemukiman penduduk.

“Karena menurut saya, horor di Indonesia bukanlah hantu. Tapi, horor adalah sebuah teror. Terus kenapa saya memasukan hantu di film ini, yah karena memang masyarakat kita masih menginginkan hantu,” ujarnya seusai nobar (nonton bareng) bersama Bupati Madiun, H. Hari Wuryanto serta puluhan warga.

‎Tentunya dalam film ini, lanjut dia, lubang buaya itu dikenal oleh masyarakat sebuah sumur karena lobang kedalam, dan buaya adalah sebuah desa. Tapi tahun 1965, desa itu sudah tidak ada, gegara peristiwa 30 September kelam.

‎‎”Sebelum peristiwa terjadi, desa tersebut ditempati oleh 13 KK (kartu keluarga). Namun, sejak peristiwa itu, desa ini hilang karena berubah menjadi kelurahan,” katanya.

Selain itu, Hanung, juga menyebutkan bahwa didalam film “Lobang Buaya” melibatkan dua orang ulama yang berperan sebagai tokoh masyarakat, dan pengasuh pondok pesantren. Satu ulama yang memang “berpihak pada kekuasaan”, dan satu ulama lagi yang hanya memberikan pencerahan kepada masyarakat maupun para santrinya.

‎‎”Semua ini, ternyata sudah ada yang ngatur.  Tak hanya itu, bahkan ada dalang yang sangat besar. Nah dua ulama inilah yang menjadi potret di tengah masyarakat sampai sekarang,” jelasnya.

‎Dalam kesempatan itu, Bupati Madiun’ H. Hari Wuryanto, mengimbau masyarakat tidak pernah melupakan sejarah. Selain itu, juga tidak patah semangat untuk memperjuangkan masa depan. Karena sejarah adalah sesuatu yang menjadi perubahan akan lebih baik lagi.

‎‎”Mudah-mudahan dengan adanya film mas Hanung ini, betul-betul dapat menjadi inspirasi anak-anak kita tidak mudah terprovokasi. Kemudian segala sesuatu itu, pasti ada yang mengawali, bahkan ada dalangnya,” tandasnya.*(al/madiuntourism.com)

error: