Jakarta, 20 April 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendukung Intellectual Property (IP) lokal seperti film animasi Garuda di Dadaku yang akan tayang tahun ini. Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menekankan penguatan berkelanjutan terhadap film yang diproduksi BASE Entertainment dan KAWI Animation itu.
“Film animasi seperti Garuda di Dadaku punya momentum untuk tayang saat libur sekolah dan awal Piala Dunia 2026 sehingga kita bisa melakukan suatu promosi yang berkelanjutan dengan berbagai pihak,” kata Menteri Ekraf dalam pertemuan yang berlangsung di Autograph Tower, Jakarta, pada Senin (20/4).
“Selanjutnya, film dengan talenta kreatif Indonesia ini juga bisa diadakan nonton bareng (nobar) dengan jajaran Kabinet Merah Putih dan keluarganya sehingga gaung film bisa dipersiapkan lebih awal sebelum rilis,” lanjut Menteri Ekraf.
Film animasi Garuda di Dadaku dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 11 Juni 2026 mendatang. Peluncuran film yang mengangkat semangat raih mimpi menjadi pesepakbola ini juga menjadi proyek dari hasil kolaborasi lebih dari 550 kreator dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kementerian Ekraf akan memastikan bahwa IP dari film animasi ini tidak berhenti di layar lebar, tetapi bisa berkembang menjadi produk turunan yang bermacam-macam seperti merchandise, konten edukatif, hingga aktivasi di berbagai daerah supaya memberi dampak semakin luas,” lanjut Menteri Ekraf.
Dari sisi industri kreatif, Co-founder BASE Entertainment Ben Soebiakto menyampaikan bahwa proyek animasi ini sudah rampung dan siap menjadi karya strategis yang memperkuat posisi animasi lokal untuk para penonton film Indonesia.
“Proses Film Garuda di Dadaku sudah sampai ujungnya atau selesai setelah selama 3 tahun melalui produksi, editing animasi, hingga dilengkapi mixing sound and music, sampai proses pembuatan Digital Cinema Package (DCP). Film animasi ini sudah ready untuk tayang dengan melibatkan hampir 550 animator dari Batam, Malang, Bogor, Bali, Jogja, dan wilayah lain yang terus mendukung industri film animasi di Indonesia,” ucap Ben Soebiakto.
BASE Entertainment merupakan rumah produksi berbasis di Jakarta dan Singapura dengan karya-karya film sebelumnya seperti Perempuan Tanah Jahanam, Gadis Kretek, Bebas, dan My Annoying Brother. Dalam pertemuan ini, potensi kolaborasi dengan fasilitasi promosi IP Garuda di Dadaku akan berjalan melalui power positioning lintas industri (film-olahraga-edukasi).
Selain fokus pada kualitas cerita dan visual, Film animasi Garuda di Dadaku juga melakukan riset mendalam terkait strategi pemasaran, termasuk penentuan waktu rilis yang disesuaikan dengan kalender pendidikan serta momentum internasional, FIFA World Cup 2026. Berbagai rencana aktivasi juga disiapkan, mulai dari kolaborasi dengan brand, distribusi produk turunan, hingga potensi pemanfaatan IP dalam kegiatan komunitas, ruang, dan transportasi publik.
“Menariknya, kami melakukan pertemuan hari ini untuk memulai langkah promosi ke satu Indonesia sehingga Film Garuda di Dadaku bisa terbantu secara lisensi karena biar bagaimanapun film animasi ini menjadi IP yang bisa ter-license dengan banyak produk-produk turunan yang lebih kreatif. Nantinya, kami juga ingin ada nonton bareng dengan berbagai komunitas sehingga film ini menjadi keberlanjutan dalam perjalanan film animasi di Indonesia,” tambah Ben Soebiakto.
Turut mendampingi Menteri Ekraf Teuku Riefky yaitu Direktur Film, Animasi, dan Video Doni Setiawan, Direktur Fotografi dan Penerbitan Iman Santoso, Tenaga Ahli Monitoring Media dan Opini Publik Hasbil Mustaqim Lubis, serta Tenaga Ahli Isu Strategis dan Antarlembaga Gemintang Kejora Mallarangeng.
Hadir juga dalam pertemuan ini Co-Chief Executive BASE Entertainment Aoura Lovenson C, Hubungan Bisnis BASE Entertainment Noldy Leonardo, dan Marketing Film Animasi Garuda di Dadaku Bayu Bhaskoro.*(sumber:ekraf.go.id)



















