INDONESIA – Membuat film animasi sekelas Hollywood kini bukan lagi hal yang tidak mungkin bagi sineas Indonesia. Pelangi di Mars contohnya, film karya anak Indonesia ini menunjukkan bahwa imajinasi besar bisa diwujudkan dengan pendekatan teknologi yang tepat.
Bukan dengan membangun set raksasa atau terbang ke luar angkasa, melainkan lewat perpaduan extended reality (XR), unreal engine, motion capture hingga CGI yang sebelumnya sering digunakan.
Bayangkan, ketika penggabungan teknologi dunia nyata dan virtual digabungkan dengan mesin game yang menjadi ‘otak’ dalam film tersebut, belum lagi ditambah motion capture yang memberi jiwa pada karakter non-manusia. Lalu bagaimana sebenarnya teknologi tersebut diterapkan?
Extended Reality (XR)
Berbeda dengan green screen konvensional, Pelangi di Mars memanfaatkan XR sebagai teknologi yang menggabungkan dunia nyata dan dunia virtual secara real-time. Dalam praktiknya, para aktor tidak lagi berakting di depan kain hijau kosong, melainkan di hadapan layar LED raksasa yang menampilkan lanskap Mars secara langsung.
Hasilnya bukan hanya visual yang lebih realistis, tetapi juga pengalaman bermain yang lebih natural bagi para pemain. Cahaya, bayangan, dan perspektif Mars sudah “hidup” saat pengambilan gambar berlangsung. Aktor bisa melihat langsung dunia yang mereka jelajahi, bukan membayangkannya.
XR juga memangkas kebutuhan set fisik yang biasa begitu kompleks. Kini, satu studio bisa berubah menjadi permukaan Mars, ruang kendali futuristik, atau laboratorium antariksa, cukup dengan mengganti dunia digital di layar.
Unreal Engine
Di balik layar LED XR, ada unreal engine yang bekerja sebagai “otak visual” film ini. Awalnya dikembangkan sebagai mesin game, unreal engine kini menjadi tulang punggung banyak produksi film berteknologi virtual.
Keunggulan utama unreal engine adalah real-time rendering. Sutradara dan sinematografer bisa langsung melihat hasil visual akhir saat syuting berlangsung, bukan menunggu berbulan-bulan di tahap pascaproduksi.
Pendekatan ini membuat proses kreatif lebih fleksibel dan efisien, sekaligus mendekatkan sineas Indonesia ke standar virtual production global.
Motion Capture
Yap, sentuhan motion capture bisa jadi pemberi “ruh” pada karakter non-manusia. Kembali pada film Pelangi di Mars, ada karakter robot dan makhluk digital yang berinteraksi langsung dengan pemain. Untuk menghindari gerakan kaku ala animasi tradisional, di sinilah peran motion capture.
Melalui teknologi ini, gerakan tubuh aktor direkam secara detail, mulai dari langkah kaki, gestur tangan, hingga bahasa tubuh secara halus, lalu diterjemahkan ke karakter 3D. Hasilnya, karakter robot tampil lebih ekspresif, hidup, dan terasa “bernapas”.
Motion capture berhasil menghidupkan “nyawa” antara aktor manusia dan karakter digital. Dengan begitu emosi tetap terasa, meski wujudnya bukan manusia.*(sumber:ekraf.go.id)



















