Menjalin Usaha Bersama

logo

Sinergi Suara, Upaya Kementerian Ekraf Temukan Talenta Musik Lokal yang Masih Banyak Tersembunyi

Kamis, 18 Desember 2025

Jakarta, 18 Desember 2025 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar pertemuan dengan Top 5 Musisi hasil kurasi Sinergi Suara. Upaya ini dalam rangka memperkuat ekosistem musik nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan menjadi mesin pertumbuhan industri musik Indonesia.

“Talenta kita itu banyak, tapi masih banyak yang tersembunyi. Kalau tidak dibuka ruangnya, mereka tidak akan pernah berkembang. Kita perlu mendorong transparansi dalam rate card dan mempertemukan musisi dengan pemilik lokasi agar ekosistem musik tetap sehat dan musisi bisa berkembang,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar dalam pertemuan yang berlangsung di Senayan City, Jakarta pada Kamis, 18 Desember 2025.

Sinergi Suara merupakan kolaborasi Kementerian Ekraf, Pophariini, dan Langit Musik yang mendorong pengembangan musisi tahap awal karier profesional melalui kurasi, mentoring, dan showcase. Lima musisi yang hadir merupakan emerging artist terbaik hasil kurasi Sinergi Suara yakni Naninson (Makassar), INTHESKY (Medan), Hunian (Yogyakarta), Basajan (Bandung), dan Satva (Denpasar).

Wamen Ekraf Irene menekankan pentingnya membangun budaya apresiasi dan sistem yang adil bagi para musisi. Menurutnya, keberadaan ruang tampil seperti open mic dan panggung alternatif menjadi krusial agar talenta tidak berhenti sebagai potensi tersembunyi.

Sementara itu, COO Madhaus (Pophariini) Suherman Soemardi menyampaikan bahwa konsistensi dalam membangun basis data dan ekosistem menjadi kunci keberlanjutan musisi. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan musisi harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya dari sisi artistik, tetapi juga dari sisi industri.

“Pophariini sudah berjalan sejak 2017 dan memiliki basis data musisi yang terus berkembang. Sinergi Suara, yang dijalankan bersama Kementerian Ekraf, lahir dari idealisme untuk mendukung emerging artist, meskipun sering dianggap belum menguntungkan secara komersial,” kata Suherman.

“Band dan musisi harus kita dorong agar bisa berkelanjutan. Ekosistem yang sehat akan tercipta jika talenta, industri, dan ruang tampil saling terhubung,” imbuhnya.

Sedangkan Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf Agustini Rahayu menegaskan bahwa Sinergi Suara dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan ekosistem musik daerah, sekaligus mendukung pengembangan musisi secara profesional.

“Musisi yang hadir hari ini adalah yang terbaik dari masing-masing daerah. Harapannya, mereka tidak hanya menjadi pionir musik Indonesia berikutnya, tetapi juga mampu menginspirasi generasi muda dan memperkuat ekosistem musik lokal agar lebih hidup dan berdaya saing,” ujar Agustini.

Program Sinergi Suara dimulai dari lima kota ini sebagai tahap awal penguatan ekosistem musik daerah, dan diharapkan dapat berkembang ke seluruh Indonesia untuk menjaring lebih banyak talenta musik lokal. Sepanjang pelaksanaannya, program ini telah menjaring 315 pendaftar dari lima kota, menghasilkan 20 karya terkurasi dan 20 musisi showcase, serta melahirkan satu kategori penghargaan khusus dalam Indonesian Music Awards 2025, yang akan diumumkan bersamaan dengan kategori reguler pada puncak Malam Penghargaan 19 Desember 2025 di Jakarta.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Kementerian Ekraf menegaskan subsektor musik sebagai the new engine of growth yang bertumbuh dari daerah, melalui penguatan ekosistem, pengembangan talenta, dan jejaring industri kreatif. Turut mendampingi Wamen Ekraf Irene Umar dalam audiensi tersebut yaitu Direktur Musik Kementerian Ekraf Mohammad Amin.*(sumber:ekraf.go.id)

error: