Menjalin Usaha Bersama

logo

Menikmati Pesona Bromo Lewat Sajian Musik dan Seni di BRI Jazz Gunung Bromo 2026

Jumat, 14 Agustus 2026

INDONESIA – BRI Jazz Gunung Bromo 2026 sukses digelar pada 24–25 Juli 2026 di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo. Festival yang meraih penghargaan Green Event of the Year pada ajang Wonderful Indonesia Awards 2025 ini kembali menghadirkan perpaduan musik, seni, budaya, dan keindahan alam Bromo dalam semangat pariwisata berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan stasiun isi ulang air minum, penggunaan dekorasi berbahan bambu dan material daur ulang, serta pelibatan masyarakat lokal dalam penyelenggaraan festival. Sebanyak 2.318 penikmat jazz dari berbagai daerah pun memadati kawasan Bromo untuk menikmati penampilan musisi nasional dan mancanegara dengan latar panorama pegunungan yang memukau.

Tak hanya menyuguhkan pertunjukan musik, Jazz Gunung Bromo 2026 juga menghadirkan beragam aktivitas yang dapat dinikmati pengunjung selama festival berlangsung. Berbagai aktivitas tersebut semakin memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus menambah kemeriahan festival.

Bagi yang belum sempat hadir, berikut beberapa hal menarik dari BRI Jazz Gunung Bromo 2026.

Kolaborasi Musisi Nasional dan Mancanegara Warnai BRI Jazz Gunung Bromo 2026 

Selama dua hari penyelenggaraan, BRI Jazz Gunung Bromo 2026 menghadirkan deretan musisi nasional dan mancanegara dengan beragam karakter musik. Mulai dari musisi lintas genre, penampilan para maestro jazz Tanah Air, hingga kolaborasi lintas negara, seluruhnya berpadu dengan panorama pegunungan Bromo dan menjadi daya tarik utama festival ini.

Pada hari pertama (24 Juli 2026), panggung Jazz Gunung Bromo dibuka oleh Bromo Jazz Camp, Plutato feat. Cait Lin asal Taiwan, dan Bilal Indrajaya dalam sesi Before Sunset. Memasuki malam hari, penonton disuguhkan penampilan Batavia Collective, Isyana Sarasvati, serta kolaborasi Ring of Fire Project bersama Simone Prattico asal Italia dan Sri Hanuraga.

Bilal Indrajaya membawakan lagu-lagu seperti NPT, Dara, Mustahil, Kaos Kaki Merah, Akhir Pekan yang Hilang, Ruang Kecil, Saujana, Kau, Biar, hingga Niscaya sebagai lagu penutup. Saat lagu terakhir dibawakan, penonton kompak bernyanyi bersama sehingga menjadi salah satu momen paling berkesan pada hari pertama festival.

Sementara itu, Isyana Sarasvati membawakan sembilan lagu, mulai dari Sikap Duniawi hingga IL SOGNO. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika ia membawakan Tetap Dalam Jiwa, yang turut mengundang penonton bernyanyi bersama.

Memasuki hari kedua (25 Juli 2026), panggung kembali diramaikan oleh Littlefingers, Kevin Yosua Big 6 feat. Nesia Ardi, dan ALI pada sesi Before Sunset, sebelum dilanjutkan oleh grup jazz asal Prancis, Watchdog, pada malam hari. Puncak festival ditutup oleh Indra Lesmana LLW bersama Eva Celia dan Teza Sumendra.

Pertunjukan diawali dengan komposisi Reborn dan Stretch N Pause, kemudian Eva Celia membawakan Dirimu Kasih dengan karakter vokalnya yang lembut namun penuh emosi. Suasana konser semakin semarak ketika Teza Sumendra bergabung membawakan Electric dan Nostalgia, sebelum rangkaian pertunjukan ditutup melalui lagu Ekspresi.

Pameran Seni BROMOPEDIA Angkat Beragam Perspektif Tentang Bromo 

Selain menikmati alunan musik jazz, pengunjung juga dapat mengunjungi BROMOPEDIA: A Landscape of Signs, sebuah pameran seni yang menjadi bagian dari rangkaian Jazz Gunung Bromo 2026. Berlokasi di Jiwa Jawa Resort Bromo, pameran ini menghadirkan 37 karya dari 28 seniman yang mengangkat beragam perspektif tentang Bromo.

Melalui karya-karya tersebut, pengunjung diajak melihat Bromo dari berbagai perspektif para seniman merefleksikan hubungan manusia, alam, dan lanskap budaya Bromo.

Kehadiran BROMOPEDIA melengkapi pengalaman di Jazz Gunung Bromo 2026. Selain menikmati pertunjukan musik, pengunjung juga dapat mengapresiasi karya seni visual sekaligus mengenal Bromo melalui sudut pandang para seniman.

Hadirkan Beragam Booth UMKM

Pengunjung juga dapat mengunjungi deretan booth Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang hadir di area festival. Booth tersebut merupakan bagian dari Pasar Karya Lokal, sebuah program yang memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk unggulan mereka kepada para pengunjung.

Berbagai produk yang ditawarkan meliputi kuliner, minuman, produk kriya, hingga cendera mata khas daerah. Pada penyelenggaraan tahun ini, Pasar Karya Lokal menghadirkan 19 tenant UMKM dengan beragam pilihan produk lokal. Kehadiran booth UMKM tidak hanya menambah semarak suasana festival, tetapi juga turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Bromo. Melalui festival ini, pelaku UMKM memperoleh kesempatan untuk menjangkau lebih banyak pengunjung sekaligus memperkenalkan potensi dan produk unggulan daerah.

Regenerasi Penyelenggara dan Musisi Jazz

Tak hanya mengedepankan konsep festival yang ramah lingkungan, penyelenggara Jazz Gunung Bromo 2026 juga memberikan perhatian pada upaya regenerasi, baik bagi tim penyelenggara maupun musisi jazz. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan kepercayaan kepada para relawan (volunteer) yang sebelumnya terlibat dalam penyelenggaraan festival untuk memimpin sejumlah pos. Dalam peran tersebut, mereka membagikan pengalaman sekaligus membimbing anggota tim yang lebih muda sehingga proses regenerasi penyelenggara dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui Bromo Jazz Camp, sebuah program pembinaan yang dirancang untuk melahirkan talenta-talenta jazz Indonesia. Program ini menjadi wadah bagi musisi muda untuk mengasah kemampuan, memperluas pengalaman bermusik sekaligus mempersiapkan diri tampil di panggung jazz profesional. Harapannya, mereka tidak hanya siap berkarya di tingkat nasional, tetapi juga mampu membawa musik jazz Indonesia ke panggung internasional.

Penyelenggaraan festival turut didukung oleh 231 pekerja event, 318 pekerja seni, serta 7 komunitas yang berkontribusi dalam berbagai aspek penyelenggaraan. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa BRI Jazz Gunung Bromo 2026 tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga membuka peluang kerja dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam industri event.

Melalui berbagai upaya tersebut, Jazz Gunung Bromo tidak hanya menghadirkan sebuah festival musik, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung lahirnya generasi baru demi menjaga keberlangsungan festival sekaligus mendorong perkembangan musik jazz Indonesia pada masa mendatang.

Mendorong Pertumbuhan Pariwisata dan Ekonomi Daerah 

Sebagai salah satu rangkaian BRI Jazz Gunung Series 2026, Jazz Gunung Bromo tidak hanya menghadirkan pengalaman menikmati musik di tengah keindahan alam, tetapi juga turut mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Festival ini terselenggara berkat kolaborasi antara PT Jazz Gunung Indonesia dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) dalam menghadirkan festival yang memadukan musik, seni, budaya, dan pesona alam Bromo.

Menurut taksiran penyelenggara, rangkaian BRI Jazz Gunung Series 2026 mencatat perputaran ekonomi sedikitnya Rp50 miliar, meningkat dibanding penyelenggaraan tahun 2025 yang ditaksir mencapai Rp42 miliar. Perputaran ekonomi tersebut didorong oleh sektor akomodasi, transportasi, kuliner, UMKM, serta aktivitas wisata di sekitar lokasi penyelenggaraan.

BRI Jazz Gunung Bromo 2026 kembali membuktikan bahwa festival musik dapat menjadi ruang kolaborasi antara seni, budaya, pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan mengusung konsep berkelanjutan, festival ini tidak hanya menghadirkan pengalaman menikmati jazz di tengah panorama alam Bromo, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi penyelenggaraan event berkualitas.

Ingin mengetahui informasi seputar destinasi wisata, event, dan beragam fakta menarik lainnya? Ikuti Instagram resmi @eventbyindonesia dan kunjungi juga situs indonesia.travel, ya! Yuk, liburan #DiIndonesiaAja dan rasakan langsung beragam event seru di berbagai destinasi Indonesia!.*(sumber:kemenpar.go.id)

error: