INDONESIA – Jumat datang seperti biasa. Seperti selalu. Azan Zuhur bak turun perlahan dari langit, bukan sekadar panggilan, melainkan semacam pengingat bahwa kita harus dan pasti akan pulang. Orang-orang mulai beranjak menuju masjid. Ada yang berjalan cepat, ada yang santai, tetapi semua menuju arah yang sama.
Di dalam masjid, saf mulai merapat. Pangkat dan jabatan seolah ditinggalkan di depan pintu. Di depan Yang Maha Kuasa, semua berdiri sejajar. Saya duduk bersila, menunduk, seperti jamaah lainnya, seraya mendengarkan kata-kata yang mengalir dari mimbar, seperti air yang sudah hafal ke mana alurnya. Hingga pada akhirnya khatib sampai pada bait tentang Nabi Idris a.s., yang konon merupakan penjahit pertama di dunia.
Ekonomi kreatif sering dipahami sebagai wajah baru yang lahir dari teknologi, tumbuh bersama industri, dan bergerak cepat mengikuti zaman. Namun, bila mau menoleh ke belakang dan berjalan sedikit lebih lambat, kita akan sadar: manusia sudah lama hidup dari mencipta.
Mata pencaharian berbasis keterampilan dan inovasi sejatinya hadir sejak awal peradaban. Bahkan dalam tradisi Islam, kisah para nabi memperlihatkan bahwa kreativitas bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga bagian dari ikhtiar manusia untuk menjaga kehidupan, martabat, dan nilai.
Al-Qur’an memang bukan kitab yang memerinci profesi. Ia juga tidak pernah menyebutnya sebagai industri, apalagi menamakannya subsektor. Namun, di dalamnya terselip narasi tentang proses penciptaan karya dan kerja manusia.
Salah satu yang paling eksplisit tentang keterampilan kreatif ada pada kisah Nabi Daud a.s., Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah Swt mengajarkan beliau cara membuat baju besi, sekaligus melunakkan besi agar dapat dibentuk dengan mudah.
“Kami mengajarkan pula kepada Daud cara membuat baju besi untukmu guna melindungimu dari serangan musuhmu (dalam peperangan)…” (QS. Al-Anbiya: 80)
Ayat ini tidak hanya menunjukkan keterampilan teknis, tetapi juga proses desain, bagaimana bahan mentah diolah menjadi produk yang fungsional dan bernilai tinggi. Dalam konteks hari ini, praktik yang dilakukan Nabi Daud dapat dikatakan sebagai awal subsektor kriya dan desain produk, sebuah kerja kreatif yang menuntut ketelitian, inovasi, serta tanggung jawab etis.
Kisah Nabi Nuh a.s. menghadirkan pelajaran lain. Jika Nabi Daud dikenal dengan olah logamnya, Nabi Nuh a.s. hadir dengan proyek kreatif berskala besar: sebuah kapal. Atas perintah Allah Swt, beliau membangun sebuah kapal besar di tengah kondisi yang tidak lazim, yakni daratan. Hal ini bahkan menuai ejekan dari kaumnya.
“Kami wahyukan kepadanya, ‘Buatlah kapal dengan pengawasan dan petunjuk Kami. Apabila perintah Kami telah datang dan tungku (dapur) telah memancarkan air, masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis (binatang), juga keluargamu…’” (QS. Al-Mu’minun: 27)
Proses ini mencerminkan keberanian untuk berinovasi, kemampuan merancang struktur, serta merencanakan visi jangka panjang. Kapal Nabi Nuh bukan sekadar alat transportasi, melainkan hasil perencanaan dan produksi yang menyelamatkan kehidupan.
Dalam perspektif ekonomi kreatif, kisah ini menggambarkan sistem desain dan arsitektur sebagai respons atas tantangan lingkungan dan masa depan. Kreativitas, dalam kisah Nabi Nuh, lahir dari keimanan dan keteguhan, bukan sekadar tren.
Lebih awal lagi, tradisi Islam mengenal Nabi Idris a.s. sebagai sosok yang memiliki beragam keterampilan. Dalam berbagai riwayat tafsir klasik, salah satunya Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya (2018), disebutkan bahwa beliau adalah orang pertama yang menjahit pakaian.
Sebelum itu, manusia hanya mengenakan kulit binatang untuk memenuhi kebutuhan sandang. Menjahit pakaian bukan hanya inovasi teknis, tetapi juga lompatan peradaban yang memuliakan manusia, menjaga aurat, dan menghadirkan keindahan yang beradab.
Dalam konteks kekinian, keterampilan ini dapat dipahami sebagai fondasi subsektor fashion dan kriya, sekaligus praktik awal dokumentasi pengetahuan. Bahkan konon, kata sang khatib, Nabi Idris a.s. mendapat tugas dari Allah Swt untuk menjahit busana bagi para penghuni surga. Sayangnya, kisah ini hanya ditemukan dalam riwayat tafsir klasik, bukan langsung dari Al-Qur’an.
Sementara itu, pada masa Nabi Sulaiman a.s., kreativitas hadir dalam skala peradaban. Al-Qur’an menggambarkan terdapat bangunan megah, karya seni, dan berbagai struktur monumental yang dibangun atas perintahnya.
“Mereka selalu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan kehendaknya. Di antaranya (membuat) gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungku)…” (QS. Saba: 13).
Gambaran ini menunjukkan bahwa arsitektur, seni rupa, dan kriya tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari tata kelola kehidupan yang teratur. Dengan kata lain, Nabi Sulaiman dapat juga disebut sebagai pengarah visi kreatif dalam skala besar: keindahan, fungsi, dan keteraturan berjalan beriringan.
Dari kisah para nabi, dapat disimpulkan bahwa kreativitas dalam Islam tidak pernah dilepaskan dari tujuan kemaslahatan. Karya lahir untuk melindungi, menyelamatkan, dan memuliakan. Kreativitas bukan sekadar ekspresi estetika atau mesin ekonomi, tetapi juga amanah.
Dari pakaian yang pertama kali dijahit oleh Nabi Idris, baju besi Nabi Daud, hingga busana para penghuni surga; dari kapal Nabi Nuh hingga bangunan megah Nabi Sulaiman, ekonomi kreatif sejatinya telah lama berdenyut dalam sejarah manusia. Tantangan generasi hari ini adalah melanjutkan denyut itu dengan inovasi yang berakar pada nilai, etika, dan kemanusiaan, yang ternyata juga seiring dengan aktivitas para panutan dalam ajaran agama.
Doa pun kemudian dilangitkan dari atas mimbar. Tangan-tangan terangkat dengan harap yang dalam namun sederhana, mengaminkan segala harapan baik dari sang khatib. Lalu dua rakaat ditunaikan dalam rukuk dan sujud yang khusyuk, seakan waktu sejenak berhenti agar kita sempat mengingat kepada siapa hidup ini kembali. Semoga kita bertemu kembali dengan Jumat mendatang dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Sumber: Abu Nu‘aim Al-Ashfahani. (2012). Hilyatul Auliya (Sejarah & Biografi Ulama Salaf). Jakarta: Pustaka Azzam.
Ibnu Katsir. (2015). Qashash al-Anbiya (Kisah Para Nabi). Jakarta: Ummul Qura.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.*(sumber:ekraf.go.id)



















