INDONESIA – Suasana Kantor Gojek pagi itu terasa berbeda. Sejak matahari belum terlalu tinggi, ratusan pengemudi ojek daring sudah mengantre rapi. Nama-nama dipanggil satu per satu. Tak tampak wajah tegang atau cemas. Yang ada justru senyum, obrolan ringan, dan tawa kecil yang sesekali pecah di antara mereka.
Hari itu, pemerintah bersama PT GoTo menggelar program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi para pengemudi ojek daring. Pemeriksaan kesehatan tak lagi harus menunggu momen tertentu atau mengharuskan mereka datang ke puskesmas. Layanan justru hadir mendekat ke tempat mereka beraktivitas.
Inilah pendekatan yang kini diambil pemerintah, menjemput, bukan menunggu. Tujuannya sederhana, agar semakin banyak masyarakat terlayani. Program ‘jemput bola’ dinilai menjadi cara paling efektif untuk memastikan layanan kesehatan benar-benar sampai ke mereka yang selama ini kerap terlewat.
“Kalau dulu orang datang ke puskesmas, sekarang kita yang jemput bola. Kita ke sekolah, ke kantor-kantor, ke tempat kerja formal maupun informal, seperti nelayan dan UMKM,” ujar Direktur Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan, Niken Wastupalupi saat berbincang.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat melakukan deteksi dini kondisi kesehatannya. Dengan begitu, kualitas kesehatan dan harapan hidup dapat terus meningkat.
“Target kami bisa melayani 136 juta orang pada 2026. Ini menjadi triase awal,” jelas Niken.
Dalam program CKG, setiap peserta menjalani empat jenis skrining kesehatan. Mulai dari pengukuran berat badan, tekanan darah, hingga pemeriksaan kesehatan mental. Setelah seluruh tahapan selesai, peserta menerima hasil pemeriksaan dalam bentuk ‘rapor’ dari dokter.
“Rapor ini hanya simbol. Yang penting adalah hasilnya, supaya bisa ditindaklanjuti. Kalau hasilnya merah, berarti perlu pemeriksaan lanjutan segera, bisa di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, bagi peserta dengan hasil kuning, misalnya tekanan darah di atas normal akan diberikan penanganan awal. “Kalau hipertensi misalnya, cukup diberikan obat dulu, sekitar 15 hari, lalu dikontrol kembali,” tambahnya.
Pemerintah memastikan hasil dari CKG tidak berhenti di meja pemeriksaan. Tindak lanjut akan terus dikawal agar masyarakat mendapatkan layanan kesehatan secara berkelanjutan.
“Nanti bisa menggunakan BPJS. Setelah CKG, peserta bisa ke puskesmas, dan dari sana akan direkomendasikan ke fasilitas kesehatan selanjutnya jika diperlukan,” ujarnya.
Di luar layanan medis, Niken menekankan pentingnya edukasi. Mendekatkan layanan saja tidak cukup tanpa kesadaran masyarakat untuk peduli pada kondisi tubuhnya sendiri.
“Kita juga harus mengedukasi masyarakat supaya mau melakukan cek kesehatan. Jadi bukan hanya mendekatkan layanan, tapi juga membangun kebiasaan,” tutupnya.*(sumber:ekraf.go.id)



















