Menjalin Usaha Bersama

logo

Bleu Clair: Mendunia Dahulu, Dikenal Indonesia Kemudian

Selasa, 10 Februari 2026

INDONESIA – Di kamar seorang siswa kelas 3 SMA, sekitar tahun 2012, Kurniawan Wicaksono menghabiskan waktu dengan kebiasaan sederhana, menonton Youtube. Musik Skrillex mengalun dari layar, suaranya bising, terdengar aneh bagi sebagian orang. Saat itu, musik elektronik memang belum sepopuler sekarang.

Namun, bagi Kurniawan dari sanalah sesuatu mengusik pikirannya. Bagaimana suara bisa memicu emosi, struktur lagu bisa menabrak pakem, dan bagaimana musik bisa terasa jujur tanpa harus rapi sempurna.

Ia tidak hanya mendengar. Ia mengamati. Set DJ luar negeri ia tonton berulang kali, tracklist ia catat, nama label ia telusuri satu per satu. Dari kebiasaan itulah, benih pertama Bleu Clair tumbuh, bukan hanya sebagai DJ panggung, tapi sekaligus produser musik.

Lahir di Denpasar, 30 tahun lalu, Kurniawan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari Solo dan Yogyakarta. Bukan sekadar tempat tinggal, melainkan kota yang membentuk ritme hidupnya: lebih tenang, membumi, dan memberi ruang untuk tenggelam dalam proses kreatif. Di era sebelum algoritma media sosial menjadi penentu karier, ia membangun segalanya secara manual, dengan rasa ingin tahu, kesabaran dan ketekunan.

Bleu Clair tidak lahir dari sorotan. Ia lahir dari ruang sunyi.

Berani Memilih Jalan yang Tidak Aman

Tahun 2015 menjadi titik balik personal. Setelah dua tahun menjalani kuliah akuntansi di FEB Universitas Gadjah Mada, Kurniawan memutuskan untuk berhenti. Ia menyelam sepenuhnya ke dunia musik. Bagi banyak orang, keputusan ini nekat dan tidak rasional. Tapi bagi Kurniawan, justru sebaliknya.

“Iya ini keputusan besar, lagipula nggak ingat juga dari akuntansi belajar apa,” katanya. “Tapi jelas, ingin hidup dari musik.”

Keputusan besar itu bukan akhir dari kebingungan, melainkan awal dari fase paling berat. Selama 2016–2017, ia tampil di klub-klub Indonesia dengan sistem bagi hasil, bahkan sering tanpa bayaran. Musik belum bisa memberi nafkah. Tidak ada jaminan masa depan saat itu. Yang tersinya hanya keyakinan bahwa proses ini harus dijalani sepenuhnya. Di fase ini, banyak yang menyerah. Bleu Clair memilih bertahan.

Menembak Dunia dari Label Indie Kecil

Tahun 2018, sebuah lagu sederhana berjudul Phone Call menjadi pintu masuk ke dunia yang lebih besar. Lagu itu ia buat bersama Irsan dan Devarra tanpa target pasar dan strategi besar. Tapi, karena ia menyukai bunyinya.

Alih-alih menunggu panggung lokal, Bleu Clair mengirim lagu itu ke label indie Prancis, Noir Sur Blanc Records. Pilihan ini bukan kebetulan, melainkan hasil riset bertahun-tahun. Ia tahu label apa yang cocok dengan karakternya, dan siapa DJ yang kemungkinan akan memainkannya.

Hasilnya melampaui dugaan. Phone Call diputar oleh Skrillex, DJ Snake, Tchami, Malaa, dan DJ kelas dunia lainnya. Bagi Bleu Clair, momen ketika Skrillex memainkan lagunya adalah life-changing moment, bukan hanya secara emosional, tapi juga struktural. Dari satu lagu, pintu industri global terbuka.

Ironisnya, semua itu terjadi ketika namanya masih nyaris tak terdengar di Indonesia.

Lebih Dikenal di Amerika Serikat daripada di Indonesia

Sejak awal, Bleu Clair memang menargetkan pasar global. Ia tidak menunggu pengakuan lokal untuk percaya diri. Ia percaya bahwa jika musiknya kuat, dunia akan mendengarkan.

Pendekatan itu terbukti. Hingga kini, pendengar terbesarnya berasal dari Amerika Serikat. Tahun 2019, Kurniawan dijemput manajemen internasional, 2NIGHT Management. Tahun 2021, ia berkolaborasi dengan Martin Garrix lewat lagu Make You Mine, sebuah kolaborasi yang menempatkannya sejajar dengan banyak nama besar EDM papan atas dunia.

Di tahun yang sama, ia menjalani tur perdananya di Amerika Serikat: 14 kota, 14 panggung, klub dan festival berbeda.“Bukan Tomorrowland. Bukan EDC. Tapi tur pertama itu. Karena di situ mimpi gue benar-benar kejadian,”

Panggung Besar dan Bukti Nyata

Karier global Bleu Clair terus berkembang. Ia tampil di EDC Las Vegas (2021–2023), Tomorrowland Belgia, Lollapalooza Paris, Ushuaïa Ibiza, hingga Ministry of Sound London, panggung yang selama ini hanya ia tonton lewat layar.

Pada 2023, ia juga tampil di Djakarta Warehouse Project (DWP) Bali, mempertemukan perjalanan globalnya dengan panggung tanah air. Di Amerika Serikat, eksistensinya tidak hanya terasa, tapi terukur. Bleu Clair berhasil menjual habis 1.000 tiket di Academy LA dan 1.250 tiket di Exchange LA, sebuah capaian yang jarang diraih DJ asal Asia Tenggara.

Bukan sekadar angka, tapi bukti bahwa namanya benar-benar dicari hingga level internasional.

Taste Maker, Bukan Sekadar Panggung

Bleu Clair sering menekankan perbedaan mendasar antara DJ dan band. Dalam kultur DJ global, lagu bisa “dicomot” dan dimainkan DJ lain. Alih-alih kehilangan identitas, hal itu justru menjadi bentuk pengakuan.

DJ adalah taste maker.

Sejak SMA dan kuliah, ia terbiasa menonton set DJ luar negeri, mencatat tracklist, mencari label di balik lagu-lagu favorit, lalu mengirim demo. Strateginya sederhana: bikin musik yang ia suka, seunik mungkin, dan siap ditolak. Penolakan datang berkali-kali. Bahkan, ia sempat hampir merilis lagu di label milik Skrillex. Namun rilis itu ditolak di detik terakhir karena satu dan lain hal.

Tidak ada drama. Hanya pelajaran tentang kerasnya industri musik dunia.

Nama Prancis, Wajah Indonesia

Nama Bleu Clair dipilih tanpa filosofi berat. Terinspirasi dari Daft Punk dan Tchami, ia ingin nama berbahasa Prancis yang terdengar kuat dan berbeda. Artinya sederhana: biru muda.

Banyak orang mengira ia orang Prancis. Reaksi kaget sering muncul saat ia akui sebagai warga negara Indonesia. “Iya, gue orang Indo. Sori ya.”

Bagi Bleu Clair, pasar global tidak menilai asal negara, melainkan musik, branding, dan cara berinteraksi dengan audiens.

Pengakuan Industri di Dalam Negeri

Meski lebih dulu mendunia, pengakuan di Tanah Air perlahan muncul. Pada AMI Awards 2022, Bleu Clair bersama Teza Sumendra memenangkan Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik lewat lagu Hyperspace.

Pada AMI Awards ke-26 tahun 2023, ia kembali masuk nominasi kategori yang sama lewat karya Sand Dunes. Puncaknya, pada 28th AMI Awards 2025 yang digelar 19 November 2025, Bleu Clair meraih penghargaan Artis Solo/Grup/Kolaborasi Dance Terbaik melalui kolaborasi dengan Jevin Julian di lagu Space & Time. Di tahun yang sama, ia juga masuk nominasi Artis Solo/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik lewat lagu Places.

Perbedaan Budaya Musik

Bleu Clair melihat ada perbedaan antara audiens Indonesia dan luar negeri. Di luar negeri, orang datang ke klub untuk mendengar DJ dan lagu orisinalnya. Berbada dengan Indonesia, musik sering kali menjadi latar dari pengalaman sosial. “Di luar, orang request lagu gue. Di sini, gue main, orang request lagu luar.”

Ini bukan kritik, melainkan cerminan ekosistem yang berbeda.

Hidup dari Musik, Tinggal di Indonesia

Hari ini, Bleu Clair sepenuhnya hidup dari musik. Namun, ia memilih tetap tinggal di Indonesia. Bukan karena pasar, melainkan karena nilai dari sebuah rumah. “Di US gue paling kuat dua bulan. Di Indo lebih nyaman. Di sini rumah.”

Pesan untuk Generasi Berikutnya

Bagi Bleu Clair, tidak ada satu resep tunggal untuk mendunia. Musik, jaringan, timing, dan keberuntungan saling bertemu. Tapi fondasinya tetap satu: orisinalitas. “Bikin musik yang bagus dan unik. Sekarang tambah satu hal, branding dan konsistensi bikin konten.”

Ia berharap semakin banyak DJ dan musisi elektronik Indonesia berani percaya pada karyanya sendiri, dan tidak takut menembak pasar global sejak awal. Karena bagi Kurniawan, musik bukan sekadar karier. Ia adalah pilihan hidup dan dunia adalah panggung yang sah untuk dicoba.

Ikuti perjalanan Bleu Clair di media sosial: @bleuclairmusic

Dengarkan ‘Bleu Clair’ di seluruh digital streaming platformdan situs resmi: www.bleuclairmusic.com

*(sumber:ekraf.go.id)

error: