INDONESIA – Wajah Kenny “Xepher” Deo, pelatih dari Alter Ego Esports dan kawan-kawan, begitu semringah siang itu. Candaan khas gamer sesekali memecah suasana audiensi Alter Ego Esports dan ekosistem esports nasional bersama Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta. Tawa pun beberapa kali pecah, termasuk Irene yang terlihat menikmati dinamika pertemuan tersebut.
Pertemuan ini digelar tak lama setelah Alter Ego menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih posisi kedua di Mobile Legends: Bang Bang M7 World Championship 2026.
Irene mengaku bangga atas pencapaian tersebut. Ia meminta agar esports Indonesia terus tumbuh. Kepada para atlet, Irene menitipkan pesan sederhana namun krusial: tetap rendah hati dan terus memikirkan masa depan sejak dini.
“Esports bukan hanya soal podium, tetapi juga perjuangan panjang di baliknya. Melalui ekonomi kreatif, kami ingin membantu tim dan atlet membangun branding, personal branding, serta kesiapan pascakarir agar tetap berkarya dan berdaya secara ekonomi,” ujar Irene.
Mendengar hal itu, Xepher mengangguk-angguk tanda setuju. Ia juga berterima kasih atas dukungan pemerintah terhadap ekosistem esports, terlebih saat pelaksanaan Mobile Legends: Bang Bang M7 World Championship 2026 belum lama ini.
“Sekarang esports begitu dilihat dan bisa lebih fokus lagi, jadi aku pribadi senang banget. Esports ini akan menjadi something yang big, bahkan di dunia sudah sangat big, seperti di Eropa, China, Korea, bahkan di Asia ini,” kata dia.
Xepher sepakat dengan Irene bahwa menjadi atlet esports bukan bercerita tentang kemenangan hari ini saja. Tantangan sesungguhnya ialah bagaimana mereka tetap relevan, diterima, dan sukses setelah sorotan kompetisi mereda.
Untuk itu, ia meminta seluruh ekosistem Alter Ego untuk menghindari sifat sombong. Mereka harus mampu diterima masyarakat serta gamer dari tim lain. Ia paham betul bahwa ekonomi dari esports begitu besar, karena itu harus bisa dimanfaatkan dengan baik oleh timnya.
Pria yang sebelumnya juga merupakan _pro_ player ini menegaskan, membangun Alter Ego hingga berhasil menjadi runner-up di Mobile Legends: Bang Bang M7 World Championship 2026 bukan perkara mudah.
Bukan hanya jago bermain, namun yang terpenting adalah sikap disiplin, mental bertanding, hingga semangat kebersamaan. Ia tidak ingin ada one man show di timnya. Untuk itu, setiap pemain diminta bekerja sesuai arahannya.
“Untuk membangun Alter Ego cukup sulit, bukan karena pemain, tetapi membangun pro player itu enggak mudah. Kita harus punya mindset, mentality, gimana cara kerja yang benar. Aku punya pengalaman 10 tahun sebagai pro player, jadi aku mengaplikasikan pengalamanku kepada player aku.”
“Untuk strategi di tim itu kita enggak harus melakukan hal lebih, tapi cukup melakukan sesuai job desk kita,” tegasnya.
Sejalan dengan Xepher, Direktur Operasional Alter Ego, Indra Hadiyanto, juga menegaskan pentingnya kerja sama dalam ekosistem esports. Tidak mudah untuk membangun Alter Ego. Bahkan, mereka sempat berjalan di tempat saat pandemi Covid-19.
Kata dia, tim ini terbentuk bukan hanya sekadar dari tempat nongkrong, namun memang mencari talenta-talenta berbakat dari setiap daerah. Mereka mengumpulkan dan menjadikannya dalam sebuah tim.
“Jadi sebenarnya AE (Alter Ego) kita awalnya dari player yang bukan di Jawa saja, tapi ada dari daerah lain seperti Kalimantan. Kita sempat stagnan sampai akhirnya kita coba perombakan dan scouting ulang pemain kita. Mungkin dulu banyak superstar, ternyata banyak pemain baru yang berbakat,” jelasnya.
Kembali pada peran pemain, Indra juga mewanti-wanti agar pemainnya bisa memiliki kemampuan lain, bukan hanya sekadar jago bermain gim. Hal ini penting agar saat mereka sudah pensiun, mereka masih memiliki kemampuan untuk sukses dengan peran barunya.
“Kalau kita tidak beri tahu dari awal, khawatirnya mereka lupa karena banyak juga nih pro player yang mainnya oke, ya sudah main aja. Player ini kan banyak yang muda juga. Kalau bisa juga humble sesama player ke kiri kanan. Kita enggak tahu ke depan seperti apa. Kita juga enggak eksklusif, mereka juga punya lingkungan yang besar. Sehingga mereka juga bisa bikin sesuatu dengan player lain, kolabs seperti itu,” tuntasnya.*(sumber:ekraf.go.id)



















