MADIUN – PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun menyelenggarakan Diklat Refreshing Awak Sarana Perkeretaapian (ASP) Manual Tingkat Muda dengan Penggerak Non Listrik Angkatan I Tahun 2026.
Diklat Refreshing ASP ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, pemahaman, serta kesiapsiagaan awak sarana dalam menghadapi berbagai kondisi operasional di lapangan. Mengingat keselamatan perjalanan kereta api (KA) adalah yang utama, dan itu dimulai dari SDM yang kompeten.
Untuk itu, KAI Daop 7 Madiun terus mematangkan persiapan dalam menyambut masa Angkutan Lebaran 2026. Fokus persiapan tidak hanya dilakukan pada aspek keandalan sarana dan prasarana, tetapi juga pada penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM).
“Diklat ini bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan seluruh personel lapangan memiliki kesiapan mental, dan teknis yang prima menjelang lonjakan penumpang di masa Angkutan Lebaran,” ujar Manager Humas Daop 7 Madiun, Tohari saat menyampaikan keterangan tertulisnya, Kamis 5 Februari 2026.
Menurutnya dari kegiatan yang digelar selama tiga hari itu, tentu fokus pada materi dan simulasi gangguan, yakni para peserta mendapatkan pembekalan intensif yang meliputi:
-Safety Refreshing: Pemaparan dari Tim Safety Inspector mengenai budaya keselamatan dan mitigasi risiko.
-Regulasi Operasional: Pendalaman Peraturan Dinas (PD) terkait tugas dan wewenang Awak Sarana.
-Teknik Penanganan Gangguan: Materi teknis mengenai cara mengatasi gangguan operasional di lintas, khususnya untuk lokomotif jenis CC 201, CC 203, dan CC 204.
KAI Daop 7 Madiun komitmen pelayanan Angkutan Lebaran, sehingga melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan ini diharapkan kualitas SDM yang dihasilkan mampu mendukung terciptanya operasional perkeretaapian yang selamat, andal, dan profesional.
“Kami ingin masyarakat yang menggunakan moda transportasi KA pada masa Lebaran nanti merasa aman dan nyaman. KAI Daop 7 Madiun senantiasa berkomitmen menyediakan layanan yang mengutamakan keselamatan, keamanan, kenyamanan, serta ketepatan waktu,” jelasnya.
Tohari menambahkan sebagai penutup rangkaian diklat, juga dilakukan praktik simulasi mengatasi gangguan operasional secara langsung pada lokomotif. Simulasi ini dirancang agar awak KA memiliki ketepatan dan kecepatan dalam menerapkan pedoman kerja saat menghadapi kondisi tidak normal (emergency) di lintas.*(hms/al)



















