INDONESIA – Ada yang berubah setiap Imlek datang. Lampu-lampu menyala di setiap sudut jalan, dunia dipenuhi oleh warna-warna merah, aroma makanan seperti kue keranjang dan Yee Sang makanan khas dari campuran sayuran dengan ikan memenuhi ruang-ruang keluarga.
Tahun baru Imlek bukan hanya sebatas perayaan, melainkan tahapan panjang yang saat ini menjadi bagian dari identitas Indonesia. Dalam perayaan Imlek, banyak cerita yang bertahan dari generasi ke generasi, seperti cerita di balik adanya mangkuk ayam jago yang sering kita temui pada makanan seperti bakso dan mi ayam.
Cerita lainnya hadir melalui seni pertunjukan, kriya dan musik yang menjadi bagian dari Ekonomi Kreatif Indonesia. Wayang potehi, salah satu seni pertunjukan boneka tangan yang dibawa imigran Tiongkok ke Nusantara pada abad ke-16, bukan hanya sekadar tontonan. Ia lahir sebagai ungkapan doa dan bentuk rasa syukur kepada para dewa serta leluhur.
Pertunjukkan wayang potehi digelar di halaman kelenteng, sekarang wayang potehi menemukan ruang baru sebagai seni pertunjukkan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia, khususnya, saat tahun baru Imlek.
Wayang potehi bisa ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan dan ruang publik lainnya. Suara yang mengiringi wayang potehi memiliki karakter khas, menggunakan alat musik yang disebut Toa Loo dan Siauw Loo, disusul Hian na atau rebab, dan Piak Koo (kayu pukul), sementara Bien Siauw, suling bambu, serta Thua Jwee, menghadirkan warna bunyi yang unik dan ekspresif.
Wayang potehi di Indonesia mengalami pertemuan budaya yang memperkaya bentuknya. Instrumen gamelan Jawa seperti kendang dan saron mengiringi seni pertunjukan. Nada-nada lokal menyatu dengan harmoni asal Tiongkok, melahirkan akulturasi yang tidak menghapus asal-usulnya, melainkan justru memperluas identitasnya.
Akulturasi juga menemukan wujudnya dalam benda-benda yang lebih sederhana, yang hadir bukan di atas panggung melainkan di meja makan.
Ya, salah satu yang paling akrab dengan kita adalah mangkuk ayam jago. Desainnya ada sejak Dinasti Ming, tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Chenghua (1465–1487). Menurut catatan yang dilansir oleh National Geographic, Kaisar Chenghua pernah menginstruksikan para pengrajin di Jingdezhen, Jiangxi. Wilayah ini sejak abad ke-6 dikenal sebagai pusat keramik kekaisaran. Dari pusat produksi inilah motif ayam jago berkembang dan kemudian dikenal luas.
Memasuki abad ke-20, mangkuk ayam jago menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melalui jalur perdagangan yang dibawa oleh para pedagang dari Guangdong, Tiongkok. Bagi masyarakat Tionghoa, mangkuk ini dikenal sebagai gongjiwan. Seiring waktu, ia tidak lagi hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga bagian dari keseharian masyarakat.
Hari ini, mangkuk ayam jago begitu lekat dengan dunia kuliner Indonesia. Ia hadir di warung bakso, mie ayam, hingga kedai-kedai sederhana di berbagai sudut kota. Sebuah desain berusia ratusan tahun kini menjadi wadah cita rasa lokal. Inilah wujud akulturasi.
Transformasi ini menunjukkan bagaimana desain tradisional dapat melampaui batas geografis dan fungsi awalnya. Ia bukan hanya artefak sejarah, tetapi juga produk kriya yang terus diproduksi, diperdagangkan, dan menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi kreatif.
Di Indonesia, industri keramik turut berkembang mengikuti dinamika tersebut. Salah satunya adalah PT Lucky Indah Keramik yang didirikan pada tahun 1972. Perusahaan ini bertransformasi dari produsen tableware keramik lokal menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Perusahaan ini juga yang memproduksi berbagai perlengkapan alat makan, termasuk mangkuk dan piring dengan motif ayam jago. Perjalanan ini menunjukkan bahwa warisan desain tradisional dapat bertemu dengan inovasi industri modern, menghasilkan produk yang kompetitif sekaligus berakar pada sejarah panjang budaya.
Dari Wayang Potehi yang bergerak di atas panggung, hingga mangkuk ayam jago yang setia menemani semangkuk bakso, kita melihat satu benang merah yang sama: budaya yang beradaptasi akan terus menemukan ruang hidupnya.
Dalam konteks ekonomi kreatif, akulturasi bukan hanya tentang pertemuan tradisi, tetapi juga tentang bagaimana nilai sejarah, simbol, dan desain dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Maka ketika Imlek kembali hadir di setiap tahunnya, ia mengingatkan kita bahwa keberagaman yang telah berbaur dari ratusan tahun lalu membentuk identitas Indonesia hari ini.
Tradisi yang terus dirayakan, seni yang terus dipentaskan dan kriya yang terus diproduksi menjadi bukti bahwa budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga harus diberdayakan.*(sumber:ekraf.go.id)



















