INDONESIA – Di tengah derasnya arus informasi, pers hadir bukan sekadar penyampai kabar, melainkan sebagai ruang penyaring dan penafsir makna. Melalui kata dan gambar, pers membentuk ingatan kolektif serta menghidupkan dialog yang mendorong masyarakat untuk memahami, mempertanyakan, dan berpikir lebih dalam. Dari kebutuhan itulah pers lahir sebagai upaya manusia membaca perubahan, memahami dunia di sekitarnya, dan memberi makna pada setiap peristiwa yang terjadi.
Secara etimologis, istilah pers berakar dari kata press yang berarti menekan atau mencetak. Makna ini menggambarkan sebuah proses, gagasan diolah, ditekan, lalu meninggalkan jejak yang dapat dibaca dan diingat. Pers, dengan demikian, tidak hanya memindahkan informasi ke ruang publik, tetapi juga memberi bobot makna agar setiap pesan memiliki daya hidup dan nilai bagi masyarakat.
Di Indonesia, pers lahir dalam lanskap kekuasaan. Pada masa kolonial, surat kabar hadir sebagai alat Hindia Belanda untuk mempertahankan kekuasaan. Sejak awal, pers sudah menunjukkan kekuatannya dalam membentuk cara pandang dan kesadaran publik.
Perubahan mulai terjadi ketika pers menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat, bahasa Jawa dan Melayu. Pers pelan-pelan mulai berubah fungsi. Dari alat penguasa menjadi ruang komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Bahasa menjadi pintu lahirnya kesadaran, dan pers mulai menyentuh kehidupan sehari-hari rakyat.
Medan Prijaji dan Tirto Adhi Soerjo sebagai Tonggak Sejarah
Tonggak penting sejarah pers Indonesia ditandai dengan terbitnya Medan Prijaji, surat kabar yang dipelopori oleh Tirto Adhi Soerjo, bukan sekadar terbitnya surat kabar, tapi kelahiran suara bumiputra yang menulis tentang dirinya sendiri, dengan sudut pandangnya sendiri. Di titik ini, pers berubah dari alat menjadi perlawanan yang halus namun berani.
Tirto Adhi Soerjo tumbuh dari lingkungan priyayi yang dekat dengan kekuasaan dan pendidikan Barat. Namun, justru dari posisi itu ia memilih berpihak pada mereka yang terpinggirkan. Melalui tulisannya, pers tidak lagi menjadi milik segelintir elite, melainkan ruang untuk menyuarakan kegelisahan, harapan, dan tuntutan keadilan.
Tirto menulis bukan hanya untuk memberi kabar, tetapi untuk membela martabat dan hak masyarakat. Atas kontribusinya merintis pers bumiputra, ia dikenang sebagai Bapak Pers Nasional.
Salah satu langkah awal Tirto membuat artikel berjudul “Boycott” yang dimuat di surat kabar Medan Prijaji, artikel ini memberi suara kepada mereka yang lemah, khususnya dalam menghadapi perusahaan-perusahaan gula milik Eropa. Langkah ini akhirnya berdampak besar, hingga sekitar 24 perusahaan gulung tikar di Surabaya. Lebih dari sekadar peristiwa ekonomi, artikel “Boycott” membawa pesan kuat, tulisan bisa menjadi senjata melawan ketidakadilan.
Warisan perjuangan Tirto kemudian menjadi bagian dari latar peringatan Hari Pers Nasional yang diperingati setiap 9 Februari. Lebih dari sekadar penanda tanggal, Hari Pers Nasional menjadi ruang refleksi bahwa pers Indonesia tumbuh dari semangat menyuarakan kebenaran, merawat kebebasan berpikir, dan berpihak pada kepentingan publik.
Lewat tangannya, pers berubah dari milik kekuasaan menjadi ruang untuk menyatakan kegelisahan dan harapan rakyat. Tirto menulis bukan hanya untuk memberi kabar, tetapi untuk membela. Ia memperjuangkan hak, martabat, dan keadilan bagi mereka yang tak punya ruang bersuara.
Jika pers pada masa Tirto hadir melalui lembaran kertas yang berpindah dari tangan ke tangan, hari ini ia bergerak dalam layar yang digenggam hampir setiap waktu. Namun perubahan medium tidak serta-merta mengubah hakikatnya.
Dulu maupun sekarang, pers tetap bekerja dengan tujuan yang sama memberi makna pada informasi, bukan sekadar menyebarkannya. Pers hadir untuk menyampaikan fakta yang dapat dipercaya, membangun kesadaran publik, serta membuka ruang dialog di tengah masyarakat.
Kini pers beradaptasi dari tinta ke digital, dari cetak ke media sosial, menunjukkan bahwa pers selalu hidup bersama zamannya. Media sebagai jembatan yang menghubungkan pelaku ekonomi kreatif dengan audiens dan pasar.
Melalui pemberitaan, liputan, dan cerita yang dikemas secara kontekstual, media membantu karya menemukan audiensnya, serta ide menemukan ruang apresiasi. Pers menjadi pengantar yang mempertemukan kreativitas dengan kepercayaan publik membuat karya lokal tidak hanya terlihat, tetapi juga dipahami dan dihargai.
Relevansi pers semakin menguat seiring tumbuhnya ekonomi kreatif dan terbukanya ruang digital. Pers kini menjadi medium strategis bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memproduksi, mengolah, dan mendistribusikan karya serta gagasan kepada publik yang lebih luas.
Dalam ekosistem ini, pers turut mendorong visibilitas, nilai tambah, dan keberlanjutan karya kreatif, sejalan dengan upaya Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam memperkuat rantai nilai ekonomi kreatif nasional.*(sumber:ekraf.go.id)



















