Menjalin Usaha Bersama

logo

Menyambut Festival Bau Nyale 2026

Minggu, 1 Februari 2026

INDONESIA – Sebagai satu Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki banyak pesona yang sukses menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu yang paling terkenal adalah terpilihnya kawasan Mandalika sebagai salah satu destinasi sport tourism kelas dunia, dan menjadi tuan rumah event balap internasional, MotoGP.

Popularitas Mandalika tidak melulu karena event balap kelas dunia dan keindahan alamnya saja. Kalau diselami lebih mendalam, daya tarik Mandalika juga bisa dilihat dari sisi budaya dan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun, seperti legenda Bau Nyale yang konon menjadi cikal bakal lahirnya kawasan Mandalika.

Festival Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak, “Bau” yang berarti menangkap dan “Nyale” yang berarti cacing laut. Bau Nyale adalah tradisi tahunan masyarakat Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk menangkap cacing laut berwarna-warni yang muncul sekali setahun di pantai selatan. Festival ini melegenda sebagai penjelmaan Putri Mandalika yang mengorbankan diri demi perdamaian.

Pada tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, bersama para tokoh adat telah menggelar ritual Sangkep Warige untuk menentukan malam puncak tradisi Bau Nyale. Dalam pertemuan itu, seluruh peserta sepakat bahwa puncak festival Bau Nyale 2026 jatuh pada tanggal 7-8 Februari 2026.

Guna menyemarakkan dan memeriahkan ajang tahunan Bau Nyale 2026, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah akan menggelar karnaval budaya Putri Mandalika di kawasan Pantai Kuta pada Jumat, 6 Februari 2026.

Pihak kepolisian dari Polres Lombok Tengah juga mengadakan Bhayangkara Riding Day 2026 pada Sabtu, 7 Februari 2026. Acara ini sebagai bagian dari upaya menyemarakkan Festival Bau Nyale sekaligus mempererat silaturahmi antara Polri, komunitas motor, dan masyarakat.

Tahun ini Bau Nyale digelar serentak di empat lokasi pantai. Selain Pantai Seger, kegiatan juga akan berlangsung di Pantai Selong Belanak, Pantai Torok Aik Belek, serta kawasan Teluk Awang.

Penyebaran lokasi kegiatan dimaksudkan agar pelaksanaan Bau Nyale tidak terpusat di satu kawasan saja, sekaligus memberi dampak ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat di sekitar destinasi wisata. Pantai Seger tetap ditetapkan sebagai pusat kegiatan utama, dengan penampilan grup musik tanah air sebagai hiburan pada malam puncak.

Tradisi Bau Nyale ini awalnya berasal dari sebuah peristiwa yang menjadi legenda, menurut masyarakat lokal, ada sepasang raja dan ratu dari sebuah kerajaan melahirkan seorang putri berparas cantik bernama Putri Mandalika. Saking cantiknya, banyak pria dari kerajaan lain yang tertarik ingin mempersuntingnya.

Karena bingung, Putri Mandalika bertapa mencari petunjuk, dan akhirnya mengundang seluruh pangeran untuk berkumpul pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak di Pantai Seger untuk memberi tahu keputusan yang diambilnya.

Kala itu, Putri Mandalika mengatakan jika ia menerima semua pinangan para pangeran. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah perselisihan. Di tengah para pangeran yang kebingungan, secara mengejutkan Putri Mandalika yang berdiri di atas sebuah batu menjatuhkan dirinya ke arah laut.

Tentunya hal ini membuat para pangeran bingung dan berusaha menyelamatkan sang putri. Namun, Putri Mandalika tidak bisa ditemukan karena telah hanyut terbawa ombak.

Uniknya, saat pencarian tersebut, secara tiba-tiba muncul banyak binatang kecil yang menyerupai cacing warna-warni, atau dikenal dengan sebutan “nyale”. Berawal dari sinilah akhirnya warga lokal mempercayai nyale merupakan jelmaan Putri Mandalika yang berupaya menjaga kedamaian dan keharmonisan di kawasan tersebut.

Pilihan dari Putri Mandalika itu menjadi sebuah kenangan mendalam bagi masyarakat Suku Sasak. Untuk mengenang sang putri, masyarakat Suku Sasak rutin mengadakan Upacara Bau Nyale.

Tradisi ini dimulai dengan sangkep atau pertemuan para tokoh untuk menentukan hari baik: tanggal 20 bulan 10 kalender Sasak, yang dipercaya menjadi waktu keluarnya nyale. Bahkan, tradisi ini sudah menjadi festival tahunan yang dikenal dengan “Festival Bau Nyale”.

Festival Budaya Bau Nyale dilakukan masyarakat lokal dengan berkumpul di Pantai Seger pada sore hari, dan dilanjutkan dengan mengadakan peresean (berkemah) hingga tengah malam.

Proses menangkap nyale atau cacing laut dilakukan pada dini hari hingga terbit fajar. Nantinya, nyale-nyale yang berhasil ditangkap akan dimasak dan disantap langsung oleh masyarakat lokal.

Menurut kepercayaan, cara ini dilakukan sebagai bentuk cinta kasih kepada Putri Mandalika. Selain itu, bagi masyarakat setempat, nyale yang didapat dipercaya membawa berkah, keberuntungan, serta bisa menyuburkan tanah.

Semenjak berkembangnya dunia pariwisata di Lombok, Event Bau Nyale biasanya dirangkai dengan beragam kesenian lokal tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cindera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), dan tidak ketinggalan pula pementasan drama kolosal Putri Mandalika.*(sumber:kemenpar.go.id)

error: