Menjalin Usaha Bersama

logo

Mengenal Festival Tabut: Warisan Sejarah, Identitas Budaya, dan Daya Tarik Pariwisata Bengkulu

Minggu, 7 Juni 2026

INDONESIA – Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang menjadi penanda identitas dan kebanggaan masyarakatnya. Di Provinsi Bengkulu, salah satu tradisi yang paling berpengaruh adalah Festival Tabut, sebuah perayaan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Tidak hanya menyimpan nilai sejarah yang kuat, Festival Tabut juga merepresentasikan kekayaan budaya serta menjadi magnet pariwisata daerah Bengkulu. Festival Tabut biasanya diramaikan dengan bangunan seperti menara hias yang dibuat oleh sejumlah elemen masyarakat. Namun, makna di balik festival ini sebenarnya lebih dalam dari hanya sekedar perayaan.

Jejak Sejarah

Festival Tabut berakar dari peristiwa bersejarah di Padang Karbala, Irak, yang mengenang gugurnya Imam Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, pada tahun 680 M. Tradisi ini dibawa ke Bengkulu oleh para pekerja Muslim keturunan India yang datang pada masa kolonial Inggris.

Seiring berjalannya waktu, tradisi Tabut mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal Bengkulu. Unsur-unsur religius yang menjadi dasar peringatan tetap dipertahankan, namun berkembang menjadi ekspresi budaya masyarakat yang lebih luas. Dari sebuah ritual komunitas, Tabut kemudian tumbuh menjadi festival budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan menjadi bagian dari identitas kolektif Bengkulu.

Prosesi dan Ritual Festival Tabut Bengkulu

Salah satu daya tarik utama Festival Tabut adalah rangkaian prosesi adat yang berlangsung selama sepuluh hari, mulai 1 hingga 10 Muharam. Setiap tahapan memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan penghormatan terhadap peristiwa Karbala sekaligus mencerminkan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bengkulu.

-Mengambik Tanah

Prosesi pembuka ini dilakukan dengan mengambil tanah dari lokasi yang telah ditentukan. Tanah tersebut kemudian disimpan dalam wadah khusus sebagai simbol asal-usul kehidupan manusia dan penghormatan terhadap para syuhada Karbala. Ritual ini menandai dimulainya seluruh rangkaian Festival Tabut.

-Duduk Penja

Pada tahap ini, benda pusaka yang disebut penja—berbentuk telapak tangan dari logam—dibersihkan dan disucikan. Penja menjadi salah satu simbol penting dalam tradisi Tabut yang melambangkan penghormatan terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW.

-Menjara

Menjara merupakan prosesi kunjungan antarkelompok keluarga Tabut yang diiringi tabuhan dol dan tassa.

-Meradai

Meradai adalah kegiatan yang melibatkan anak-anak dan remaja untuk mengumpulkan dana atau sumbangan guna mendukung pelaksanaan festival.

-Arak Penja

Penja yang telah disucikan kemudian diarak keliling kota dalam sebuah pawai budaya. Prosesi ini biasanya menarik perhatian masyarakat dan wisatawan karena diiringi tabuhan dol, pertunjukan seni, serta berbagai atraksi budaya khas Bengkulu.

-Arak Sorban

Ritual ini merupakan arak-arakan sorban putih yang melambangkan penghormatan kepada Imam Husein.

-Gam

Setelah berbagai prosesi berlangsung, masyarakat memasuki masa yang disebut Gam, yaitu periode tenang atau hening, sebagai bentuk penghormatan dan refleksi atas tragedi Karbala.

-Tabut Naik Puncak

Menjelang akhir festival, bangunan Tabut yang telah dihias dengan berbagai ornamen warna-warni disempurnakan. Struktur Tabut yang menjulang tinggi menjadi simbol utama festival sekaligus daya tarik visual yang paling ikonik bagi wisatawan.

-Arak Gedang

Arak Gedang merupakan pawai besar yang menampilkan Tabut-Tabut dari berbagai kelompok. Ribuan masyarakat memadati jalan-jalan kota untuk menyaksikan iring-iringan yang diwarnai musik dol, tari tradisional, dan berbagai atraksi budaya.

-Tabut Tebuang

Inilah puncak sekaligus penutup Festival Tabut. Bangunan Tabut diarak menuju lokasi tertentu untuk kemudian “dibuang” atau dilepaskan secara simbolis. Prosesi ini menandai berakhirnya masa duka dan menjadi simbol pelepasan segala kesedihan, sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Nilai Budaya

Festival Tabut merupakan cerminan kekayaan budaya Bengkulu yang lahir dari perpaduan berbagai unsur tradisi.

Selain mempertahankan ritual, kini Festival Tabut juga menjadi ruang pelestarian seni dan budaya lokal. Berbagai atraksi khas Bengkulu ditampilkan selama festival berlangsung, mulai dari pertunjukan musik dol yang energik, tari kreasi Tabut, permainan rakyat tradisional, hingga pameran seni dan kerajinan daerah. Kehadiran berbagai unsur budaya tersebut menjadikan Festival Tabut sebagai wadah ekspresi kreatif masyarakat sekaligus sarana transfer nilai budaya kepada generasi muda.

Nilai budaya yang terkandung dalam Festival Tabut juga mencerminkan semangat gotong royong. Persiapan dan pelaksanaan festival melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga pewaris tradisi, seniman, pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga pemerintah daerah.

Potensi Pariwisata Daerah

Dalam perkembangannya, Festival Tabut telah menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan nasional dan masuk dalam Karisma Event Indonesia. Keunikan prosesi, kemegahan bangunan Tabut yang berwarna-warni, serta suasana perayaan yang meriah menjadikan festival ini memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selama penyelenggaraan festival, Bengkulu tidak hanya menawarkan pengalaman budaya yang autentik, tetapi juga memperlihatkan kekayaan destinasi wisata alam, wisata sejarah, kuliner khas, dan produk ekonomi kreatif.

Untuk tahun ini, Festival Tabut akan diselenggarakan pada 15 hingga 25 Juni 2026 (atau 1 hingga 10 Muharram dalam kalender Hijriah). Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung selama 10 hari penuh dengan pusat kegiatan di Lapangan Merdeka, Kota Bengkulu.Cover: indonesia.travel.*(sumber:kemenpar.go.id)

error: