INDONESIA – Di tengah semarak pameran seni lukis monumental “Art for Peace and a Better Future”, suasana di Spac8, ASHTA District, Jakarta, yang digelar oleh SBY Art Community terasa berbeda.
Bukan hanya deretan lukisan yang memanjakan mata, tetapi juga suara-suara inspiratif dari para seniman yang berkumpul dalam diskusi bertajuk “Artist Talk: Artist Career, Art Networking, and Passion.” Tiga generasi seniman independen yaitu, Mas Dibyo, Naufal Abshar, dan Akbar Linggaprana hadir untuk berbagi kisah, tantangan, dan semangat di balik perjalanan panjang mereka di dunia seni rupa.
Seniman asal Pacitan, Mas Dibyo, membuka sesi dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidupnya. Ia bercerita bagaimana menjadi seniman bukan sekadar soal talenta, tetapi juga perjuangan untuk meyakinkan diri bahwa jalan ini layak ditempuh. “Seorang seniman itu harus punya tiga hal,” ujarnya mantap. “Management, marketing, and personality.” Baginya, ketiga hal ini adalah fondasi agar karya bisa terus hidup, dikenal, dan membawa seniman pada jejaring yang lebih luas.
Di sisi lain, Naufal Abshar membawa perspektif generasi milenial yang sarat semangat dan kreativitas tanpa batas. Naufal yang sejak kecil tak lepas dari dunia menggambar, mengakui bahwa hobinya tak lantas membuatnya menjadi juara pada saat itu. Namun Naufal tak patah arang, 12 tahun dedikasi tanpa henti membuatnya yakin bahwa kesuksesan datang bagi mereka yang konsisten.
Dan itu terjadi, bukan hanya berhasil menggelar lebih dari 50 pameran kelompok dan 3 pameran tunggal, seniman asal Bandung ini juga pernah menyabet penghargaan sebagai Grafis Desain Album Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award tahun 2019. “Saya ingin jadi seniman artpreneur,” ungkap Naufal. “Bukan hanya berkarya, tapi juga mampu stands out lewat self-branding, jaringan, dan hubungan yang kuat dengan kolektor.”
Sementara itu, Akbar Linggaprana, seniman berlatar belakang militer sekaligus lulusan STSRI “ASRI” Yogyakarta, menekankan bahwa passion adalah bahan bakar utama yang membuat seniman tetap berkarya. Ia mencontohkan sosok SBY yang tak hanya produktif melukis, tapi juga menulis puisi dan bermain musik. “Passion itu harus terus dipupuk, karena dari sanalah lahir karya yang berbicara dari hati,” ujarnya.
Cerita pelukis tiga generasi itu jelas menyiratkan bahwa butuh kegigihan dan jejaring yang luas bagi seorang pelukis untuk bisa menjajakan karya mereka agar tidak hanya sebatas pajangan. Di sinilah roda ekonomi seorang pelukis bergerak, karya seni yang lahir dari passion harus bertemu dengan realitas pasar yang penuh tantangan.
Diskusi semakin hidup ketika para pembicara mulai membahas tantangan seniman pendatang baru dari cara menghadapi skeptisisme keluarga hingga memanfaatkan media sosial untuk membangun branding pribadi. Naufal dengan penuh semangat mengingatkan bahwa di era digital, Instagram, TikTok, dan berbagai platform lain adalah panggung baru bagi seniman untuk memperkenalkan karya sekaligus dirinya kepada dunia.
Tak hanya soal seni, Artist Talk ini menjadi ruang pertemuan ide, tempat publik belajar bahwa seni rupa bukan sekadar ilustrasi, melainkan ekspresi jiwa yang mampu membangun peradaban dan bahkan mendorong ekonomi kreatif ke level berikutnya. Satu hal terasa jelas, menjadi seniman berarti berani terus berjalan, diiringi passion, jejaring, dan keyakinan bahwa setiap goresan punya cerita yang layak dibagikan.*(sumber:ekraf.go.id)



















