Jakarta, 4 Desember 2025 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) meluncurkan Program SIKLUS, sebuah inisiatif fesyen sirkular yang mengubah seragam kantor tak terpakai menjadi produk baru. Kolaborasi dengan startup daur ulang Pable ini bertujuan mengurangi limbah tekstil sekaligus mendorong ekonomi kreatif dan lingkungan yang berkelanjutan.
“Fesyen sirkular bukan hanya mengedepankan estetika, tetapi juga functionality. Maka, kita harus paham sustainable dalam program SIKLUS punya keterikatan seperti apa daur ulang masuk dalam fenomena fast fashion. Mengingat, 10 persen dari limbah-limbah yang ada di sekitar kita berasal dari produk fast fashion,” ucap Wamen Ekraf Irene Umar di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis 4 Desember 2025.
Dalam semangat kolaboratif program SIKLUS, Kementerian Ekraf memberikan dukungan nyata terhadap gaya hidup berkelanjutan sekaligus mengampanyekan fesyen sirkular yang berdampak positif terhadap lingkungan.
“Melalui SIKLUS, kita harus melihat sebuah opportunity supaya kebutuhan alternative fashion atau pemanfaatan recycle materials bisa dimulai. Harapan saya, dari Kementerian Ekraf bisa menjalankan sirkular fesyen dan tiap kita membeli sesuatu atau belanja juga harus diingat ada dampak ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan. Let’s choose wisely, let’s live wisely as a valuable human being,” harap Wamen Ekraf.
Selaras dengan pernyataan tersebut, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu mengajak seluruh insan di lingkungan Kementerian Ekraf untuk berperan melalui penyerahan seragam tidak terpakai untuk didaur ulang. Seragam bisa diserahkan melalui dropboxe atau drop point yang akan disiapkan di Gedung Film Pesona Indonesia.
“Kami bekerja sama dengan Pable untuk menyerahkan seragam kantor yang sudah tidak terpakai sehingga bisa mendaurkan kembali menjadi benang. Dari benang akan dibuat kain tenun oleh para penenun di daerah Pasuruan, Jawa Timur. Kain tenun tersebut nantinya akan didesain teman-teman dari salah satu universitas di Surabaya untuk dijadikan kembali seragam yang baru. Inilah nantinya yang akan menjadi produk fesyen sirkular,” jelas Deputi Yuke.
Data dari Pable menyebut setiap kilogram seragam tidak terpakai yang didaur ulang berpotensi mengurangi karbon yang terbentuk dari pembuatan kain baru sebesar 315 kilogram CO2 dan menyelamatkan 14 pohon. Sementara, setiap 500 kilogram pengolahan seragam tidak terpakai hanya membutuhkan 40 mililiter air, jauh lebih kecil dibandingkan dengan air yang dibutuhkan untuk memproses katun baru sebesar 2700 liter.
“92 juta ton limbah tekstil itu dihasilkan secara global. Tapi, hanya 1 persen yang kembali menjadi material. Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia punya tantangan bagaimana sistem ekonomi sirkular ini dapat diaplikasikan lintas sektor. Bukan hanya untuk subsektor fesyen saja, tetapi juga bisa kita lihat potensi dari subsektor ekraf lain yang luar biasa. Kita butuh rantai pasok dan rantai supply chain yang jelas sehingga Indonesia punya kesempatan untuk menjadi circular hub tidak hanya di Asia, tetapi global,” tutur Aryenda Atma sebagai founder Pable.
Wamen Ekraf turut didampingi Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen Internal dan Efektivitas Organisasi, Yanuar Pranuradhi; serta Direktur Fesyen, Romi Astuti dalam peluncuran program SIKLUS.*(sumber:ekraf.go.id)



















