INDONESIA – Aroma mentega dan keju sering kali menjadi penanda datangnya Lebaran pada banyak rumah di Indonesia. Di atas meja ruang tamu, toples-toples berisi nastar, kastengel, putri salju, hingga lidah kucing tersusun rapi menyambut tamu.
Tradisi ini begitu akrab, seolah menjadi bagian dari budaya turun-temurun. Namun tak banyak yang menyadari, sebagian besar kue kering tersebut justru berakar dari dapur Eropa pada masa kolonial.
Nama-nama seperti nastar dan kastengel menyimpan jejak sejarah yang panjang. Nastar berasal dari istilah Belanda ananas taart, yang berarti tart nanas. Sementara kastengel bersumber dari kata kaasstengels, yang secara harfiah berarti stik keju. Kue-kue ini dibawa masyarakat Belanda yang tinggal di Hindia Belanda dan kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal sesuai dengan bahan yang tersedia di wilayah tropis.
Jika di Eropa tart biasanya berisi apel atau beri, di Indonesia buah nanas yang melimpah justru menjadi bahan utama. Begitu pula dengan berbagai variasi kue kering lain yang berkembang melalui proses adaptasi panjang antara teknik baking Eropa dan bahan lokal Nusantara. Dari dapur kolonial itulah lahir tradisi “kue kaleng Lebaran” yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri.
Seiring waktu, kue-kue tersebut tidak hanya menjadi simbol suguhan Lebaran, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi banyak pelaku usaha. Menjelang Ramadan hingga Idulfitri, permintaan kue kering meningkat tajam. Banyak pelaku usaha rumahan hingga UMKM kuliner memanfaatkan momentum ini untuk memproduksi berbagai jenis kue kering dengan beragam inovasi rasa dan tampilan.
“Rata-rata 400 toples, tapi untuk tahun ini (2026) sekitar 400–550 toples. Paling banyak pesanan kastengel, nastar, dan putri salju kacang,” ujar Bintang, pemilik Anna Cookies.
Di dapurnya, angka-angka itu bukan sekadar catatan produksi. Itu berarti loyang yang terus bergantian masuk oven, adonan yang tak pernah benar-benar berhenti diuleni, dan waktu yang terasa lebih cepat dari biasanya.
Menjelang Lebaran, pesanan memang selalu melonjak. Bintang menyebut jumlahnya bisa meningkat hingga dua kali lipat dibanding hari-hari biasa. Lonjakan itu tak hanya membawa kesibukan, tapi juga rasa syukur karena omzet ikut terdongkrak.
Namun di balik peningkatan itu, ada tanggung jawab yang ikut membesar. Agar semua pesanan tetap selesai tepat waktu tanpa mengorbankan rasa, Bintang kini tak lagi bekerja sendiri. Ia merekrut sejumlah pegawai, membagi ritme kerja di dapur, sambil memastikan satu hal tetap sama, kualitas yang sudah dipercaya pelanggan.
Padahal, semua ini berawal dari sesuatu yang sangat sederhana. Bintang bercerita, Anna Cookies lahir di sela waktu luang saat Ramadan. Sebelumnya, ia lebih sering menerima pesanan masakan rumahan. Kue kering bukanlah rencana besar, hanya percobaan kecil untuk mengisi waktu.
Namun justru dari “iseng” itulah, jalan baru terbuka. Resep kolonial ditambah racikan keluarga yang ia gunakan ternyata disukai. Pesanan datang, lalu terus bertambah, hingga akhirnya menjadi usaha yang kini rutin kebanjiran order setiap musim Lebaran.
“Awalnya itu karena iseng aja, untuk ngisi waktu senggang di bulan puasa. Karena saya kalau di bulan biasanya open PO (_pre order_)masakan, jadi untuk bulan puasa ini saya coba open PO kue kering atau kue Lebaran,” terangnya. Dari dapur sederhana dan niat coba-coba, Anna Cookies tumbuh menjadi bagian dari tradisi Lebaran banyak keluarga, satu toples demi satu toples.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi kuliner dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Dari dapur-dapur kecil di rumah hingga toko kue modern, produksi kue kering Lebaran mampu menciptakan lapangan usaha baru, mulai dari pembuat kue, pemasok bahan baku, hingga pelaku usaha kemasan dan pemasaran digital.
Di era ekonomi kreatif saat ini, kue kering Lebaran juga terus bertransformasi. Inovasi bermunculan, mulai dari nastar dengan isian premium, kastengel dengan keju lokal berkualitas, hingga varian rasa baru yang mengikuti selera generasi muda. Desain kemasan pun semakin diperhatikan agar tampil lebih menarik dan bernilai jual tinggi.
Perjalanan kue kering Lebaran menunjukkan bagaimana warisan kuliner dapat terus hidup melalui adaptasi zaman. Dari pengaruh kolonial yang berabad lalu hadir di Nusantara, kini nastar, kastengel, dan berbagai kue kering lainnya tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keluarga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kreatif kuliner di Indonesia.
Di balik setiap toples yang tersaji saat Lebaran, tersimpan kisah panjang tentang sejarah, budaya, dan kreativitas. Warisan masa lalu itu kini menemukan bentuk barunya bukan sekadar suguhan hari raya, melainkan juga peluang usaha yang terus berkembang dari generasi ke generasi.*(sumber:ekraf.go.id)



















