Menjalin Usaha Bersama

logo

Subsektor Ekonomi Kreatif dalam Balutan Festival Budaya Indonesia

Rabu, 10 Juli 2024

INDONESIA – Tak hanya terkenal akan keindahan alam yang tak berujung, Indonesia juga memiliki berbagai macam festival budaya. Menariknya, setiap festival budaya di Indonesia memiliki ciri khasnya masing-masing, dan menjadi event tahunan yang selalu sukses menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dalam jangka panjang, banyaknya ragam festival budaya yang rutin digelar di Indonesia tak hanya untuk mempromosikan pariwisata Indonesia saja, melainkan turut mengenalkan potensi ekonomi kreatif Indonesia. Pasalnya, banyak festival budaya asli Indonesia yang mengedepankan berbagai subsektor ekonomi kreatif, sekaligus melestarikan budaya asli Indonesia agar selalu terjaga.

Setidaknya, ada beberapa festival budaya di Indonesia yang menonjolkan sisi ekonomi kreatif yang menarik untuk disaksikan, berikut adalah daftarnya:

Solo Menari

Selain di Banyuwangi, Kota Solo, Jawa Tengah, juga punya festival budaya dalam balutan seni pertunjukan yang tidak kalah menarik. Namanya Solo Menari, yakni festival budaya yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Tari Sedunia. Festival budaya yang sudah dilaksanakan sejak 2006 ini selalu diadakan di ruang terbuka, dan tidak dipungut biaya alias gratis.

Setiap tahunnya, festival budaya ini selalu diikuti ratusan penari dari berbagai daerah dan luar negeri. Hal ini juga makin membuktikan jika Solo memang layak mendapat predikat sebagai sebagai UNESCO Creative Cities Network untuk kategori kerajinan dan kesenian rakyat.

Festival Gandrung Sewu

Kalau Sobat Parekraf senang melihat seni pertunjukan, terutama seni tari, Festival Gandrung Sewu termasuk wajib masuk daftar festival budaya yang spektakuler, dan wajib didatangi minimal sekali seumur hidup. Pasalnya, festival budaya tahunan asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini menampilkan lebih dari 1.000 penari Gandrung dengan gerakan gemulai yang sangat indah.

Daya tarik Festival Gandrung Sewu tidak hanya terlihat dari banyaknya penari yang terlibat saja. Tapi, juga pada iringan musik yang menggunakan perpaduan musik khas Jawa dan Bali yang benar-benar autentik. Tahun ini, Festival Gandrung Sewu bakal kembali dilaksanakan pada 24-26 Oktober 2024. Jadi, pastikan Sobat Parekraf tidak melewatkannya, ya!

Festival Keroncong Plesiran

Selanjutnya, Festival Keroncong Plesiran merupakan festival budaya yang tidak kalah populer. Berbeda dengan kedua festival budaya yang berasal dari subsektor seni pertunjukan. Festival Keroncong Plesiran merupakan festival budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berasal dari subsektor musik.

Sesuai dengan namanya, festival budaya ini merupakan pertunjukan musik yang menghadirkan berbagai macam grup musik keroncong. Mulai dari grup musik keroncong asli, keroncong modern, hingga keroncong dengan format orkestra. Uniknya, festival budaya ini langganan diadakan di destinasi wisata, seperti Hutan Mangunan, Nglanggeran, Tebing Breksi, hingga Titik Nol Kilometer. Jadi, kita bisa menikmati iringan musik keroncong berlatar pemandangan alam yang menawan.

Festival Lompat Batu

Festival budaya di Indonesia yang sayang untuk dilewatkan berikutnya adalah Festival Lompat Batu dari Nias, Sumatra Utara. Festival ini merupakan sebuah acara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Wisata Bawomataluo, dan menjadi seni pertunjukan khusus bagi wisatawan.

Bukan lompat batu biasa, atraksi yang dikenal dengan nama Hombo Batu ini merupakan atraksi melompati batu setinggi dua meter dan lebar 40 cm. Konon, atraksi budaya ini merupakan tradisi yang dilakukan sebagai syarat pemuda Nias untuk mengikuti perang. Apabila pemuda Nias berhasil melompati batu tersebut, maka mereka akan dianggap sebagai sosok dewasa yang telah matang secara fisik.

Festival Ogoh-Ogoh

Rekomendasi festival budaya yang tidak kalah unik dan tidak pernah gagal mencuri perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara adalah Festival Ogoh-Ogoh. Sebuah festival budaya dilakukan dengan membawa karya seni patung yang diarak keliling menjelang Hari Raya Nyepi. Bukan patung biasa, festival budaya ini menampilkan patung bambu dengan tinggi lebih dari 2 meter.

Ogoh-Ogoh memiliki filosofi yang mengharuskan seluruh umat manusia saling menjaga alam dan tidak merusak lingkungan di sekitarnya. Setelah diarak, festival budaya ini ditutup dengan membakar ogoh-ogoh sampai habis. Hal ini dilakukan sebagai upaya sebagai bentuk “pembersihan” dengan memusnahkan roh jahat dan kembali suci.

Jember Fashion Carnaval

Terkenal sebagai “Festival Rio de Janeiro” Indonesia, Jember Fashion Carnaval merupakan festival budaya yang dikemas dengan parade karnaval fesyen. Menariknya, festival budaya ini menampilkan ratusan busana yang spektakuler dan kaya akan nilai budaya.

Kalau Sobat Parekraf tertarik, Jember Fashion Carnaval akan kembali diselenggarakan pada 2-4 Agustus 2024. Tak kalah meriah dengan tahun-tahun sebelumnya, akan ada sekitar 1.600 peserta yang ikut bergabung dan tampil dalam rangkaian festival budaya tersebut.Cover: Jember Fashion Carnaval, salah satu parade di subsektor fesyen yang mendunia (Shutterstock/Jhon Images).*(sumber:kemenparekraf.go.id)

error: