Menjalin Usaha Bersama

logo

Prince Husein: The Voice, Sweet Scar, dan Kejujuran dalam Bermusik

Sabtu, 21 Maret 2026

INDONESIA – Di balik sosok Prince Husein, tersimpan perjalanan panjang tentang identitas, keraguan, dan akhirnya penerimaan diri. Bagi sebagian orang, musik adalah tujuan. Namun, bagi Prince, musik justru menjadi cara untuk bercerita tentang kehidupan, kegagalan, dan proses memahami diri sendiri.

Bagi Prince, perjalanan menjadi musisi tidak pernah terasa seperti garis lurus. Ia lahir dalam keluarga yang sudah dekat dengan dunia hiburan. Ayahnya pernah bermusik dan tampil di berbagai panggung saat muda. Kakaknya, Puput Novel, dikenal publik sebagai artis cilik populer pada masanya.

Lingkungan ini tanpa disadari menjadi pintu awal yang menuntunnya masuk ke dunia musik. Menariknya, Prince justru sempat merasa bahwa musik bukanlah sesuatu yang benar-benar ia pilih sendiri. “Awalnya gue merasa seperti didorong ke arah itu,” ujarnya.

“Tapi kemudian gue bertanya ke diri sendiri: ini benar-benar yang gue mau, atau hanya sesuatu yang dijalani aja karena sudah terlanjur ada di situ?”

Pertanyaan itu kemudian menjadi titik awal pencarian identitasnya.

Kegagalan The Voice ke Lagu yang Mengubah Segalanya

Salah satu momen penting dalam perjalanan Prince terjadi pada 2016 ketika ia mengikuti ajang pencarian bakat The Voice Indonesia. Ia tampil membawakan lagu Sing milik Ed Sheeran. Sebagaimana khalayak tahu, hasilnya tidak sesuai harapan; tidak satu pun juri menekan tombol.

Bagi Prince yang masih muda saat itu, kegagalan terasa sangat besar. Ia bahkan mengaku sempat menangis setelah audisi. Baginya, ajang tersebut terasa seperti satu-satunya pintu menuju industri musik.

Namun, waktu kemudian membuktikan hal sebaliknya. Video audisinya dilihat produser Eka Gustiwana, yang kemudian mengajaknya terlibat dalam sebuah proyek musik bersama Weird Genius.

Dari pertemuan itu lahirlah lagu “Sweet Scar” pada 2017. Lagu tersebut kemudian berkembang menjadi fenomena digital dengan lebih dari 133 juta views di YouTube dan lebih dari 90 juta plays di Spotify. Keberhasilan ini menjadi titik balik penting dalam karier Prince. Ia menjadi sosok di balik lirik dan notasi vokal dari lagu tersebut. Hanya butuh waktu sekira 30 menit, berdasarkan draf musik yang sudah Weird Genius buat sebelumnya.

Tanpa strategi pemasaran besar atau target ambisius, lagu itu justru berkembang secara organik dan populer di berbagai platform digital. Bagi Prince, pengalaman ini menjadi pelajaran penting. “Waktu menulis lagu itu, semuanya mengalir saja.”

Bagi Prince, pengalaman tersebut menjadi momen pertama ketika ia benar-benar merasakan kekuatan kejujuran dalam karya.

Dua Tahun di Panggung Klub dan Sebuah Pertanyaan Baru

Kesuksesan Sweet Scar membawa Prince ke banyak panggung. Periode 2017 hingga 2019, ia sering tampil bersama Weird Genius maupun solo di berbagai klub dan festival musik. Namun, semakin sering tampil, ia mulai menyadari sesuatu: ada bagian dari dunia tersebut yang rasanya tidak benar-benar cocok dengannya.

Bukan soal musik elektroniknya, melainkan atmosfer yang menyertainya. Banyak pertunjukan berlangsung dengan format minus-one di panggung klub yang bising dan penuh hiruk-pikuk. Di tengah kesibukan itu, muncul pertanyaan baru dalam dirinya: apakah ini benar-benar ruang kreatif yang ia cari?

Ia mulai mengingat kembali masa-masa awalnya bermain musik ketika SMP. Saat itu ia membentuk band sederhana, awalnya hanya karena ingin terlihat keren di depan teman-teman sekolah. Namun, di ruang latihan band itulah ia menemukan rasa yang berbeda.

Ia menghabiskan waktu berjam-jam memainkan musik pop-punk dan alternative rock era 2000-an, mengulik lagu-lagu dari band seperti Simple Plan dan My Chemical Romance. Bagi Prince, pengalaman itu terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan sekadar tampil di panggung klub. Di titik itulah ia mulai kembali ke akar: membuat musik yang benar-benar ia sukai.

Menemukan Rumah Baru di Maspam Company Ltd.

Pada 2019, Prince menjadi penampil pembuka sebuah showcase yang kemudian mempertemukannya dengan Maspam Company Ltd. Pertemuan tersebut menjadi langkah baru dalam perjalanan musiknya.

Bersama label ini, Prince mulai mengeksplorasi karya yang lebih dekat dengan identitas musikalnya sendiri, musik yang lebih berorientasi pada instrumen dan nuansa band.

Ia juga semakin berani menulis lagu yang sangat personal, termasuk lagu “Walau Berantakan” yang ia anggap sebagai salah satu karya pertama yang benar-benar merepresentasikan dirinya. “Di lagu itu saya tidak mencoba menjadi siapa-siapa. Saya hanya menulis apa yang saya rasakan.”

Cosmo Kent: Alter Ego Hasil Kontemplasi

Meski demikian, Prince tidak sepenuhnya meninggalkan musik elektronik. Ia menciptakan alter ego bernama Cosmo Kent untuk proyek-proyek EDM yang tetap ingin ia jalani.

Nama tersebut terinspirasi dari dua karakter yang ia sukai sejak kecil: Cosmo dari kartun The Fairly OddParents dan Clark Kent, alter ego Superman. Berbeda dengan proyek sebelumnya, Cosmo Kent bukan keputusan impulsif. Prince mengaku alter ego tersebut dibuat secara strategis agar identitas musiknya tetap jelas.

Ia ingin karya yang dirilis sebagai Prince Husein tetap memiliki karakter tertentu, sementara proyek EDM yang berbeda warna dapat hidup dalam identitas lain. Satu hal yang akan selalu tetap sama: prinsip kejujuran dalam berkarya. “Sekarang saya tahu bahwa yang penting bukan genrenya. Yang penting cara saya menulisnya jujur atau tidak.”

Musik sebagai Cara Bercerita

Jika ditanya tentang peran yang ingin ia ambil di industri musik Indonesia, Prince tidak menjawab dengan ambisi angka streaming atau popularitas. Ia justru memilih satu kata sederhana: storyteller.

Bagi Prince, musik hanyalah salah satu medium untuk bercerita. Inspirasi tersebut datang dari kecintaannya pada komik superhero sejak kecil. Dari sana ia belajar bahwa cerita memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara orang berpikir dan merasakan sesuatu. “Cerita bisa mengubah cara orang melihat hidup,” ujarnya.

Ia percaya bahwa pengalaman pribadi, baik kegagalan, kebingungan, maupun proses memahami diri, bisa menjadi sesuatu yang bermakna ketika dibagikan melalui karya.

Karena itu, ia tidak takut menulis lagu tentang keraguan, kecemasan, bahkan masa-masa sulit dalam hidupnya. Baginya, semakin jujur sebuah karya, semakin besar kemungkinan karya tersebut menyentuh orang lain.

Kejujuran Menjadi Kompas Berkarya

Di tengah industri musik yang sering dipenuhi tekanan angka dan tren, Prince memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi terlalu fokus pada hasil akhir. Sebaliknya, ia berusaha menikmati proses kreatif, menulis lagu, mengeksplorasi cerita, dan mengekspresikan pengalaman hidupnya secara jujur. “Kalau saya jujur dalam berkarya dan menikmati prosesnya, hasilnya biasanya ikut datang,” katanya.

Pendekatan ini membuat perjalanan kreatifnya lebih ringan. Ia tidak lagi merasa terjebak dalam satu identitas. Prince Husein bisa menjadi musisi, penulis lagu, pembicara tentang komik di internet, atau apa pun yang ingin ia eksplorasi.

Pada akhirnya, semua kembali pada satu hal: cerita. Karena bagi Prince, selama masih ada cerita yang ingin dibagikan, perjalanan kreatifnya belum akan berhenti.*(sumber:ekraf.go.id)

error: