Menjalin Usaha Bersama

logo

Mengenal Baju Barong, Baju Asli Bali yang Menjadi Incaran Wisatawan

Rabu, 10 Juli 2024

INDONESIA – Selain pie susu, baju barong menjadi salah satu oleh-oleh khas Bali yang banyak diincar wisatawan lokal maupun mancanegara. Pasalnya, baju barong memiliki desain yang unik dan mengangkat salah satu budaya Bali, walau desainnya sederhana. Meski begitu, di balik popularitasnya saat ini, ternyata ada proses sejarah dan perjalanan panjang baju barong hingga akhirnya terkenal dan menjadi incaran banyak wisatawan.

Buat yang belum tahu, baju barong asli Bali dicetuskan oleh almarhum Pande Ketut Krisna, yang baru saja meninggal dunia di usia 77 tahun pada 29 Februari 2024 lalu. Alih-alih direncanakan sejak jauh hari, ternyata baju barong ditemukan tanpa sengaja oleh beliau. Tepatnya saat sang seniman sedang melakukan percobaan untuk warna kain tenun khas Bali, atau dikenal dengan kain endek.

Hal ini bermula sejak Pande Ketut Krisna bersama keluarganya di Gianyar, Bali, sedang mengembangkan kreasi kain endek Bali yang kala itu warnanya cukup terbatas, yakni warna dasar hitam dipadu biru, hitam dipadu hijau, dan cokelat.

Selama proses eksperimen, sang seniman melakukan berbagai percobaan celup benang tenun untuk mendapatkan warna kain endek yang lebih bervariatif. Berawal dari eksperimen inilah akhirnya seniman kelahiran 21 Juni 1946 tersebut menemukan warna-warna berbeda dan berbentuk gambar barong. Hingga akhirnya, tepat pada 1969, terbentuklah desain motif baju barong yang kita kenal sampai sekarang.

Proses Pembuatan Baju Barong Asli Bali

Berawal dari ketidaksengajaan, baju motif barong asli Bali pun semakin dikenal luas, terutama di kalangan wisatawan. Menariknya, sejak pertama kali diciptakan, Pande Ketut Krisna sengaja membuat desain gambar baju barong yang sederhana agar mudah dibuat. Namun, dirinya mengecualikan motif barong ketet (ket), karena tergolong rumit digambar.

Penting dipahami, ternyata hampir sebagian besar baju barong di Bali dibuat secara manual, yakni dengan dilukis tangan secara langsung di atas kain. Dimulai dengan menggambar kepala barong di bagian tengah baju berwarna cerah yang telah dipilih, dan dilanjutkan dengan menambahkan beberapa detail agar gambar barong terlihat lebih hidup. Mulai dari menggambar gigi, mulut, hidung, hingga mata barong.

Identik dengan bentuk kepala barong dengan dasar kain polos berwarna cerah, baju barong buatan Pande Ketut Krisna laris manis di pasar oleh-oleh Bali. Awalnya, sang seniman menjual baju barong di obyek wisata seperti Ubud dan Kuta. Dijual seharga Rp1.500 per potong, baju barong hampir selalu habis terjual karena dianggap penemuan baru saat wisatawan mencari oleh-oleh.

Hingga akhirnya, saat ini baju barong banyak ditemukan di berbagai toko oleh-oleh di Bali. Bahkan, permintaan baju barong tidak hanya datang dari Indonesia. Justru semakin banyak wisatawan mancanegara dari berbagai negara ikutan berburu baju barong untuk dibawa pulang ke negara masing-masing.

Mengenal Barong dalam Budaya Bali

Membahas tentang baju barong, tentu akan kurang lengkap kalau kita tidak mengenal “barong” pada budaya Bali secara mendalam. Menjadi ikon dalam Tari Barong, sang barong memiliki visual yang mirip singa yang dibalut bulu tebal berwarna putih disekeliling wajah, serta dihiasi dengan berbagai perhiasan emas dan pecahan cermin.

Menurut kepercayaan, karakter barong merupakan makhluk mitologi Hindu, dan menjadi simbol kebajikan atau dikenal dengan “malaikat pelindung”. Bahkan, masyarakat Bali percaya, setiap wilayah memilki ruh pelindungnya masing-masing. Itu mengapa, setiap wilayah di Bali menggambarkan barong sebagai binatang yang berbeda-beda.

Secara keseluruhan, ada banyak jenis barong yang dipercaya masyarakat Bali di antara: Barong Ket (Barong Singa), Barong Buntut, Barong Landung (Barong Raksasa), Barong Celeng (Barong Babi Hutan), Barong Macan, dan Barong Naga.

Jadi, apakah baju barong juga menjadi oleh-oleh wajib saat Sobat Parekraf liburan ke Bali? Cover: Baju barong menjadi salah satu baju yang wajib dibeli saat liburan ke Bali (Shutterstock/Oka diana).*(sumber:kemenparekraf.go.id)

error: