INDONESIA – Di Indonesia, bermain gim masih dipandang sebelah mata. Kecanduan hal tersebut dianggap berdampak terhadap penurunan prestasi di sekolah hingga menjauhkan dari masa depan yang sukses. Hal itu juga yang dirasakan Syauki Fauzan Sumarno alias Nino, pro player dari Alter Ego Esports.
Semula, kedua orang tuanya kekeuh melarangnya bermain gim. Bahkan, terang-terangan tidak menyetujui saat anaknya ingin fokus menjadi seorang gamer pro player. Menurut mereka, hal tersebut justru bisa berdampak negatif untuk masa depan Nino. Ia justru diminta untuk fokus di bidang olahraga ketimbang esports di sela-sela sekolahnya.
Sebagai anak, Nino sempat mengikuti apa yang diinginkan kedua orang tuanya. Namun, hasilnya berbanding terbalik. Latihan fisik yang keras di dunia futsal justru membuat dirinya tumbang dan merasa tidak cocok untuk terus dilanjutkan.
“Awalnya enggak didukung, awal difokusin bidang olahraga kayak futsal. Futsal itu kita latihan fisik tiga hari, terus begadang dua hari, (energi) sudah habis,” jelas Nino saat ditemui.
Nino tidak marah saat itu. Ia paham keterbatasan informasi mengenai esports menjadi alasan kedua orang tuanya mentah-mentah menolak keinginan tersebut.
“Jadi keluarga emang marah aja karena difokusinnya untuk main bola atau futsal. Jadi kayak enggak cocok aja main game,” jelasnya.
Akan tetapi, berkat kegigihannya untuk terus melunakkan hati kedua orang tuanya, Nino meyakinkan bahwa esports merupakan bagian dari olahraga di bidang digital, khususnya gim. Ia menerangkan bahwa bermain gim atau menjadi atlet esports merupakan profesi baru yang akan terus berkembang.
Kini, dengan keberhasilannya bersama Alter Ego Esports dan menjadi atlet pro player, orang tua Nino mendukung penuh jalan sukses yang ia pilih. Nino berubah menjadi anak yang mampu menghadirkan penghargaan dan penghasilan untuk keluarga.
Prestasi terbaru, ia bersama rekan-rekannya berhasil memboyong Juara 2 dalam Mobile Legends: Bang Bang M7 World Championship 2026, sebuah kompetisi esports tingkat dunia yang diselenggarakan di Jakarta. Mereka terpaksa harus mengakui keunggulan tim Aurora Gaming dari Filipina.
“Tapi, aku bilang sama keluarga bahwa sukses itu caranya beda-beda. Aku sukses dengan caraku. Pandangan sekarang didukung banget, karena tahu bahwa aku sudah menghasilkan juga. Mereka tahu aku sudah tidak berdiri di atas kaki orang tua. Sekarang aku bersyukur aja apa yang aku jalanin selama ini berbuah aja,” jelasnya.
Cerita serupa juga disampaikan Direktur Operasional Alter Ego, Indra Hadiyanto. Dalam curahan hatinya, kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anaknya di dunia gim bukan hanya kepada pemain, namun juga seluruh ekosistem di dalamnya.
Menjabat di posisi penting dalam sebuah tim, masa depan Indra juga dipertanyakan kedua orang tuanya. Mereka ragu, seperti yang dirasakan Nino.
“Sebenarnya semua orang tua berpikiran begitu karena mereka ingin punya karier hingga pendapatan lebih bagus. Beberapa orang yang bekerja di esports tidak hanya di player, tetapi juga saya, bahkan videografer dan desainer merasakan hal serupa,” ungkapnya.
Kembali lagi, esports bukan sebuah industri rumahan, namun memiliki skala besar. Saat semua bisa meyakinkan dan berhasil, maka orang tua akan menerima keputusan anaknya.
“Wajar orang tua menanyakan itu, tapi yang pasti ialah kalau kita berikan hasil atau output, pasti mereka akan dukung kita sih,” tuntasnya.*(sumber:ekraf.go.id)



















