Menjalin Usaha Bersama

logo

Keindahan Indonesia dalam Buku Fotografi Karya Fotografer Indonesia

Rabu, 10 Juli 2024

INDONESIA – Bagi penggemar buku-buku berkualitas, tanggal 17 Mei bisa dibilang menjadi hari yang spesial. Sebab, pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Seperti yang kita tahu, sebagai salah satu bagian dari ekonomi kreatif, subsektor penerbitan selalu memberikan inovasi dan ide-ide kreatifnya dalam menerbitkan buku-buku yang berkualitas. Bahkan, subsektor penerbitan pun kerap berkolaborasi dengan berbagai subsektor ekonomi kreatif lainnya.

Salah satu kolaborasi tersebut bisa dilihat dari banyaknya buku-buku bertema fotografi yang menampilkan keindahan alam Indonesia sebagai daya tarik utamanya. Banyaknya buku-buku fotografi menjadi bukti nyata jika kolaborasi subsektor ekonomi kreatif bisa menghasilkan sebuah produk kreatif bernilai tinggi.

Dalam hal ini, kolaborasi antara subsektor penerbitan dan subsektor fotografi. Jika terus dikembangkan dan semakin banyak buku fotografi bertema keindahan alam Indonesia yang diterbitkan. Maka, tidak menutup kemungkinan akan menjadi metode promosi yang menarik.

Karena, berawal dari hasil jepretan sang fotografer serta kualitas cetak yang baik, akan menarik perhatian dan ketertarikan siapa saja yang membaca buku fotografi tersebut untuk menjelajahi alam dan mengenal budaya Indonesia lebih mendalam. Sebagai referensi, ada banyak buku bertema fotografi karya fotografer lokal yang menampilkan keindahan alam Indonesia. Berikut di antaranya:

Urang Kanekes “Baduy People”

Kalau membahas fotografer Indonesia, sudah pasti nama Don Hasman akan masuk dalam daftar paling atas. Lahir pada 7 Oktober 1940, Don Hasman adalah sosok fotografer Indonesia yang terkenal enerjik dan sering bertualang mengabadikan apa saja yang menarik perhatiannya dengan menggunakan kamera.

Selain motret, fotografer yang akrab disapa Om Don ini juga aktif membuat buku fotografi. Salah satunya adalah buku kebudayaan tentang masyarakat Baduy yang berjudul Urang Kanekes “Baduy People” (2012) yang dikerjakan bersama dengan Filomena Reiss. Kabarnya, sebelum rilis, Om Don membutuhkan waktu 37 tahun untuk mengumpulkan foto-foto yang akan ditampilkan dalam buku tersebut.

Telinga Panjang – Mengungkap yang Tersembunyi

Pilihan buku fotografi yang mengangkat tema budaya dan pariwisata Indonesia berikutnya merupakan karya dari fotografer Ati Bachtiar yang berjudul Telinga Panjang – Mengungkap yang Tersembunyi (2016). Membutuhkan proses kerja selama dua tahun, buku fotografi ini dilatarbelakangi dengan rasa kehilangan Ati Bachtiar dengan keberadaan perempuan Dayak bertelinga panjang yang jumlahnya makin sedikit.

Sebagai informasi, Telinga Panjang – Mengungkap yang Tersembunyi merupakan buku pertama dalam tiga seri buku tentang suku Telinga Panjang yang telah diterbitkan Ati Bachtiar. Seri kedua berjudul “Jejak Langkah Telinga Panjang” (2019), dan buku ketiganya adalah “Melacak Jejak Telinga Panjang” (2023).

Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api

Selanjutnya Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api (2021/cetakan terbaru) karya fotografer dan penulis, Ahmad Arif. Identik dengan cover yang didominasi warna hitam, dengan siluet langit dan kuning berwarna oranye kekuningan yang eksotis, buku fotografi ini membahas alam Indonesia.

Sesuai dengan judulnya, buku Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api membahas tentang kondisi alam Indonesia yang dipenuhi dengan keragaman hayati yang tercipta dari kompleksitas geologi.

Uniknya, buku fotografi Indonesia ini juga mengangkat tentang kondisi sebagian masyarakat yang tidak menyadari bahwa mereka tinggal di kawasan “bencana”. Dikemas dengan sangat apik dan jepretan foto yang “hidup”, membuat buku karya Ahmad Arif ini sangat menarik untuk dibaca.

Chasing Light at the Edges of Night 

Buku fotografi menampilkan keindahan alam Indonesia yang tidak kalah menarik dibaca adalah Chasing Light at the Edges of Night (2020) karya Teguh Santosa. Tak sendirian, Teguh Santosa pun mengajak Profesor Suprapto Sujono mantan rektor ISI Yogyakarta dan Risman Marah sebagai pelopor pendidikan tinggi fotografi Indonesia sebagai kurator.

Dikenal sebagai pakar fotografer makro, di bukunya kali ini Teguh Santosa menampilkan kehidupan malam dengan pencahayaan minim. Alih-alih gelap dan membosankan, hasil jepretan dibalut dengan berbagai macam teknik fotografi yang dimiliki justru membawa hasil yang sangat indah. Bahkan, buku ini sukses membuat siapa saja yang melihatnya ikut merenung menikmati malam dengan tenang.

Magnificent Indonesia: From the Lens of 21 Indonesian Women

Sedikit berbeda dengan buku-buku sebelumnya, Magnificent Indonesia: From the Lens of 21 Indonesian Women (2016) merupakan sebuah buku fotografi yang melibatkan 21 fotografer perempuan Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Angela Muliani Hartojo, Cindy A. Budiono, Elyana Dasuki, Lina Gunawan, Maria Adriani, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti periode 2014-2019.

Sesuai dengan judulnya, buku fotografi ini membahas tentang kekayaan alam Indonesia secara menyeluruh. Baik itu dari keindahan alam, budaya, serta tradisi masyarakat yang beragam dan masih sangat terjaga dengan baik, dengan proses kurasi yang cukup ketat dari para kuratornya. Foto: Cover buku “Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api” (Dok Kompas Penerbit Buku/Edited).*(sumber:kemenparekraf.go.id)

error: