INDONESIA – Bulan ramadan menjadi momen puncak bagi geliat fesyen lokal. Antrean panjang terlihat memenuhi Pondok Indah Mall 3. Dalam satu hari, tercatat 7.700 lebih pengunjung hadir, dengan total akumulasi sekitar 30.000 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan. Angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas. Di lapangan, ia menjelma menjadi arus manusia yang dinamis.
Setiap sudut ruang dipenuhi interaksi hangat antara tenant dan pembeli. Para jastiper (jasa titip personal shopper) terlihat sibuk dengan mengunggah foto-foto brand fesyen ke berbagai platform digital mereka, para ibu yang teliti meraba tekstur kain, hingga pemilik brand yang sesekali turun tangan merapikan display dengan senyum lelah namun puas.
Tahun ini, GlamLocal menggelar roadshow bertajuk Sparkling Ramadan di City Hall PIM 3 dengan lebih dari 120 brand lokal yang digelar pada tanggal 25 Februari sampai 1 Maret 2026. Rangkaian berlanjut melalui Magnificient Ramadan di Grand Indonesia pada 4-5 Maret 2026 yang menghadirkan 75 lebih brand, serta Wanderful Ramadan di Grand Metropolitan Bekasi dengan 65+ brand. Lokal brand yang hadir diantaranya BWBYAZ, CEKHAS, Saudaree, SEIA, WMD Fashion dan masih banyak lagi.
Koleksi yang ditawarkan GlamLocal 2026 untuk Lebaran cukup mencuri perhatian pengunjung. Koleksi yang ditawarkan benar-benar mengikuti tren masa kini, dimulai model klasik seperti Kebaya Janggan dan Kebaya Kutu Baru yang kini tampil lebih segar dan dikemas dalam bentuk one-set (setelan) atau tunik yang nyaman. Hasilnya terlihat santun saat digunakan untuk silaturahmi lebaran nanti.
Tren yang keren ini tentu tidak akan bisa tersebar luas tanpa adanya ekosistem pendukung yang kuat, mulai dari para fashion enthusiast sampai pejuang jastip. “Identitas kami sudah sangat kuat di komunitas fashion ethusiast dan jastiper,” ujar Ditto Avelino, Project Manager GlamLocal, penuh antusias.
Ia memahami bahwa di balik setiap transaksi, ada peran penting para pelaku Jastiper yang menjadi penghubung antara jenama lokal dengan konsumen di berbagai daerah.
Yang membuatnya unik? Ekslusivitasnya. Setiap tenant yang bergabung wajib merilis koleksi Raya Edition yang hanya tersedia di booth GlamLocal. Tidak ada di toko online, inilah yang memicu antusiasme luar biasa.
“Selama satu bulan ramadan kita ada 3 event dan itu semua eksklusif, fashion collection Raya Edition yang memang hanya dijual di GlamLocal saja,” tutur Ditto. Keunikan lain juga hadir melalui program apresiasi di setiap roadshow.
“Dan yang bikin beda, roadshow kami di acara ini banyak hadiah. Kita ada undian yang berlangsung selama event dan bakal diumumkan di hari akhir. Ini berlaku buat jastiper dan para customer, jadi mereka semua bisa dapat hadiah” lanjutnya.
Bagi Ditto dan tim, GlamLocal bukan hanya sekadar event musiman, melainkan ruang akselerasi bagi brand lokal. Lahir dari semangat untuk bertahan saat pandemi covid-19, event ini kini menjadi “showtime” bagi puluhan brand lokal di peak season Ramadan.
“Kami sangat berfokus membantu UMKM. Sejak awal, terutama saat pandemi Covid-19, kami berupaya membangun komunitas para pemilik brand fashion agar setelah pandemi mereka tetap bisa bertahan. Karena itu, GlamLocal hadir untuk menopang penjualan UMKM melalui sebuah event khusus yang menampilkan koleksi-koleksi khas GlamLocal.”
Komitmen tersebut kembali ditegaskan oleh Ditto. “Tujuan utama kami adalah membantu penjualan UMKM. Kami memonitor setiap tenant, jika ada penjualannya yang kurang menonjol, kami bantu dengan eksposur tambahan. Kami ingin semua maju bersama,” tambahnya.
Kehadiran GlamLocal juga dirasakan salah satu jenama lokal By.Ody. Di tengah riuh ramainya PIM 3, Ria, General Manager brand By.Ody, melihat GlamLocal sebagai titik temu yang tepat antara produk dan pasar.
“GlamLocal sangat selaras dengan profil By.Ody yang menyasar wanita muslimah. Di sini, koleksi Raya Series terutama Petal Hakyu (cardigan dengan motif bunga) menjadi primadona,” tuturnya.
Ia juga menilai kualitas brand lokal kini semakin matang. Mulai dari pemilihan bahan premium dan desain menarik.
Kematangan kualitas yang ditunjukkan oleh para pelaku kreatif ini rupanya berbalas manis dengan meningkatnya standar apresiasi masyarakat, dapat kita lihat dengan antusiasmenya pengunjung yang datang ke acara GlamLocal. Rasa penasaran yang mulanya tumbuh di ruang digital, kini bertransformasi menjadi aksi nyata di lapangan.
Di sisi lain antrean, seorang pengunjung membagikan pengalamannya. Ia mengaku tertarik untuk datang setelah melihat ramainya di media sosial mengenai GlamLocal “Awalnya karena sering muncul informasi di Instagram dan TikTok, dan saya memang penasaran sama brand-brand lokal di GlamLocal.”
Baginya, pengalaman belanja langsung menghadirkan kepuasan yang tidak terganti oleh transaksi daring. “Belanja langsung jauh lebih worth it. Koleksi bisa dicoba, bisa konsultasi dengan penjaga booth langsung dan nggak perlu khawatir sama salah ukuran.” ujarnya.
GlamLocal berhasil menjadi jembatan memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas. Salah satu contohnya Ishana, jenama yang berhasil mencuri perhatian pengunjung “Awal aku tahu brand Ishana dari GlamLocal ternyata desainnya unik dan bagus-bagus.”
Sebagai seorang fashion enthusiast, ia menaruh harapan besar agar bazar seperti GlamLocal terus konsisten menjaga standar kualitas, konsistensi ukuran (sizing), dan inovasi desain.
GlamLocal bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan cerminan nyata dari kebangkitan ekonomi kreatif, khususnya di subsektor fesyen. Ketika penyelenggara, pelaku brand, dan konsumen bergerak dalam harmoni yang sama.
Kembalinya tren Kebaya Janggan dan Kutu Baru ke keseharian masyarakat pun menjadi bukti bahwa kreativitas lokal terus menemukan jalannya. Lewat sentuhan inovasi para pelaku brand, warisan budaya tidak hanya lestari, tetapi juga tampil relevan dan semakin dekat dengan generasi masa kini.*(sumber:ekraf.go.id)



















