Menjalin Usaha Bersama

logo

Gema Musik Religi saat Ramadan: Dari Nasida Ria hingga Danilla Riyadi

Senin, 9 Maret 2026

INDONESIA – Saat Ramadan tiba, musik religi kembali menemukan ruangnya. Dari radio, warung kopi, pusat perbelanjaan hingga platform musik digital, lantunan lagu bernuansa spiritual menggema di berbagai sudut. Ia bukan sekadar menambah kesejukan suasana, tetapi juga menjadi pengiring perjalanan batin selama menjalani ibadah di bulan suci.

Tradisi ini sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum era digital dan media sosial, musik religi telah menjadi bagian dari atmosfer Ramadan di Indonesia. Jika dulu masyarakat menikmatinya lewat kaset dan CD yang diputar di rumah atau radio, kini musik yang sama hadir lebih ringkas melalui platform streaming yang mudah diakses kapan saja.

Salah satu kelompok yang sejak lama identik dengan musik religi adalah Nasida Ria. Berdiri di Semarang pada 1970-an, grup ini dikenal sebagai salah satu pelopor qasidah modern di Indonesia. Dengan memadukan rebana dan instrumen musik modern, mereka menghadirkan lagu-lagu dakwah yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Salah satu karya yang paling melekat di ingatan masyarakat adalah lagu Perdamaian. Liriknya sederhana namun sarat makna, menjadikan musik qasidah bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sarana menyampaikan pesan moral dan sosial.

Pada masa kejayaan kaset dan radio, lagu-lagu Nasida Ria kerap diputar menjelang waktu berbuka puasa maupun sahur. Denting rebana dan harmoni vokal mereka menjadi bagian dari memori Ramadan bagi banyak keluarga Indonesia.

Meski telah melewati berbagai era, Nasida Ria tak pernah hilang dari panggung musik religi. Nada dan pesan yang mereka bawa terus beradaptasi dengan zaman. Tak heran jika hingga kini nama mereka tetap dikenal sebagai salah satu ikon musik religi di Tanah Air.

Seiring berjalannya waktu, warna musik religi di Indonesia juga semakin beragam. Jika dahulu qasidah menjadi genre yang dominan, kini musik religi hadir dalam berbagai bentuk mulai dari pop, folk hingga alternatif.

Lirik-lirik dakwah pun berkembang dengan pendekatan yang lebih ringan, reflektif, dan kontemplatif. Karena itu, musik religi kerap terasa seperti teman intim yang menemani suasana Ramadan, memberi ruang bagi pendengarnya untuk merenung sekaligus menemukan ketenangan.

Salah satu contoh menarik datang dari Danilla Riyadi. Penyanyi dengan karakter vokal lembut dan warna musik alternatif ini pernah membawakan lagu bernuansa religi bersama Haddad Alwi.

Lagu berjudul “Pengakuan” merupakan aransemen ulang dari lagu “Al Itiraf” yang sebelumnya dipopulerkan Haddad Alwi. Bagi Danilla, musik layaknya sebuah lukisan yang membutuhkan harmonisasi di dalamnya.

“Di musik kita bisa bikin lukisan, dari harmonisasi dari chord lalu aku juga bikin scene dan tektokan dengan Abi (Haddad Alwi). Buat gue pribadi semua manusia relate harusnya dengan lirik Al Itiraf. Saat diajak apakah aku mau menyanyikan, aku jawab: mau,” ujar Danilla dalam sebuah siniar bersama Soleh Solihun.

Haddad Alwi sendiri mengaku kagum dengan karakter suara Danilla saat membawakan lagu tersebut. Menurutnya, Danilla mampu menghadirkan interpretasi yang berbeda tanpa menghilangkan ruh dari lagu aslinya.

“Danilla ini kalau mendengarkan sesuatu enggak cuma setengah, dengerin sampai habis. Keren ini keren. Dengan gaya khas Danilla. Abi menangis mendengar suara Daniella,” ujar Haddad Alwi dalam sebuah komentar terpisah.

Akhirnya, perjalanan musik religi di Indonesia menunjukkan bahwa kreativitas terus menemukan jalannya. Dari denting rebana qasidah Nasida Ria hingga sentuhan alternatif dari generasi musisi seperti Danilla Riyadi, musik terus berevolusi mengikuti zaman. Kendati begitu, isinya tetap sama, menjadi teman tenang selama bulan suci.*(sumber:ekraf.go.id)

error: